Keluarga. 2019.

Pertengahan 2019, mas Addie Setyawan pulang. Tidak lama, hanya sebulan, sebelum kembali bergulat dengan kesehariannya di Meksiko.

Kami sempatkan mengambil foto keluarga yang teramat sangat jarang. Sementara hidup terus berjalan, keluarga kami juga bertambah. Bersama kami, mas Herda Mukti Setyawan di pojok kiri, teman tandem mas Maliq Adam di atas panggung selanjutnya.

Kota & Ingatan

Pendar: Sebab Nasib Tak Hanya Ditentukan Lima Tahun Sekali

Untuk merayakan bulan yang penuh warna, jalanan yang penuh slogan, hari-hari yang pepat dan penuh pupur, massa yang saling tikam demi ‘menentukan arah pembangunan’, yang ambil keputusan sebab tak punya pilihan, yang tak urun suara sebab sadar akan selalu terpinggirkan.

—-

[Pendar]

Teks:

tetaplah terjaga, seperti kejenuhan yang paling jenuh

dalam kerumunan yang paling riuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

tetaplah terjaga, seperti kejauhan yang paling jauh

dalam perburuan yang paling piyuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.

dan tetaplah terjaga, seperti kebohongan yang paling satir

dalam kemurungan yang paling kapir

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

dan tetaplah terjaga, seperti kekalahan yang paling amis

dalam kesombongan yang paling lamis

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Direkam di:

Studio Jogja Audio School, Emobi Studio dan T-Studio, Yogyakarta.

Perekam dan Penata Suara:

Maliq Adam, Aditya Kurniawan dan Putranto Aditomo

Penyelaras Akhir:

Putranto Aditomo

Director:

Aditya Prasanda

Videographer:

Dhani Phantom

Aktor: Muhamad Rizal Kurniadi dan Muhammad Ayodya Putra

Pengambilan gambar di Gilang Ramadhan Studio Yogyakarta (grsb_yogyakarta)

Musrary #4

Arsip: Lampu Senja

Meski bercerita dalam format tabah (baca: akustik) dan bermain di panggung dan acara yang diwadahi IVAA, boleh dibilang ini kali pertama Kota & Ingatan merancang secara kecil-kecilan sebuah semi-konser tunggal. Kota & Ingatan diberi kesempatan untuk merespon ruang, dan menyiasati panggung malam itu, kecuali format acara, tradisi musrary yang menyediakan sesi-tanya jawab di sela satu jam pertunjukan.

Bermain dengan skuat lengkap dan seharusnya, bersama Izyudin “Bodhi” Abdussalam yang bertanggung jawab atas tatanan visual pertunjukan dan Adha M. Lauhil yang menata suara, Kota & Ingatan membawakan sembilan catatan, bakal album yang kelak dan entah kapan akan direkam dan dibagikan.

imageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimageimage

[Interview] Kota & Ingatan: Menghidupkan Catatan, Menjembatani Kabar

Processed with VSCO with hb2 preset

Ini adalah edisi offline dari obrolan santai melalui tulisan dengan Oktaria Asmarani dari Warningmagz. Sebab kami percaya ‘wawancara yang utuh’ dapat menyibak seluruh kedangkalan berpikir, ketergasaan, maupun hal yang paling retak dalam diri kami, ketimbang berlindung dalam tulisan yang sudah dinarasikan (edisi narasi bisa disimak di sini). Di bawah, seluruh ‘pembicaraan yang utuh’ kami terakan:

Indradi Yogatama (Gitar), Maliq Adam (Gitar), Addie Setyawan (Bass), Alfin Satriani (Drum), Aditya Prasanda (Teks)

  1. Kapan Kota & Ingatan terbentuk dan bagaimana proses terbentuknya?

K: Persisnya lupa, yang jelas kami berlima sepakat membentuk kolektif di awal 2016. Kami sudah saling mengenal dan saling bantu di project musik masing-masing sejak tujuh tahun lalu, saat kami masih berstatus sebagai mahasiswa Pertunjukan. Semuanya yang belakangan kami sadari, sudah saling terkoneksi sejak lama, sejak Addi Setyawan dan Maliq Adam pernah terlibat di project musik yang sama, di saat yang bersamaan Addi Setyawan dan Indradi Yogatama juga pernah membantu project musik Aditya Prasanda, pun sebaliknya. Hubungan kami berempat semacam saling-silang: yang luang membantu yang lain, hingga kami bertemu Alfin Satriani. Ini yang memudahkan saat memulai Kota & Ingatan, sebab kadung cair dan terbiasa dengan masing-masing. Bedanya kini kami melakukannya berlima.

  1. Mengapa memilih Kota & Ingatan sebagai nama unit ini?

K: Karena malas mencari nama, itu sebenarnya judul “Alur” versi pertama. Tiga bulan workshop saat kami benar-benar memulai kolektif ini, kami berada dalam keadaan: tengah mengaransemen tiga teks, belum kepikiran nama kolektif sama sekali, dan tidak punya ide judul yang tepat untuk tiga catatan tadi. Sampai pada proses kami membuat edisi pertama “Alur”. Saat itu sama sekali belum ada judul, sebetulnya, namun karena keperluan arsip, mau tidak mau kami harus melabeli sesuatu agar mudah kami kenali. Singkatnya saat itu, karena malas mikir tetek bengek penamaan, kami nyomot dari kata-kata yang tertera di teksnya (lagu yang kini dikenal sebagai Alur) ada kata “Kota”, ada pula “Ingatan”, jadilah kedua kata itu kami ambil sebagai judul catatan pertama yang kami selesaikan, “Kota & Ingatan”.

Di tahap itu, selain sudah memiliki satu catatan, masih ada dua teks nir judul yang on the way proses aransemennya, dan belum ada gagasan nama kolektif sama sekali. Ya kira-kira beberapa minggu setelahnya ada obrolan untuk menggaet judul tadi sebagai nama kolektif karena kami merasa nama Kota & Ingatan sepertinya lebih menarik jika dijadikan alamat rumah ketimbang judul sebuah catatan – jika enggan disebut tidak punya opsi lain cum tidak kreatif dalam label-melabeli.

  1. Sebenarnya musik kalian bisa kalian sebut sebagai genre apa, dan mengapa memilih jenis musik ini?

K: Terlepas dari kami punya akses yang banyak dengan disiplin musik dan pertunjukan, terus terang — tanpa bermaksud klise – kami tidak pernah memikirkan jenis musik apa yang kami mainkan. Mungkin sebab itu kami selalu main aman — setiap kali ditodong pertanyaan semacam ini — dengan menjawab kami memainkan musik Kota & Ingatan.

Tidak pula ada alasan khusus, selain karena kami senang memainkannya.

  1. Apakah ada musisi lain yang mempengaruhi musik kalian? Kalau iya, siapa dan bagaimana mereka mempengaruhi kalian? (dapat dijawab secara keseluruhan sebagai band, dan juga masing-masing personil).

K: Sebagai kolektif kami berhutang banyak kepada Herry “Ucok” Sutresna a.k.a Morgue Vanguard. Bagi kami pada banyak hal; cara Ia memperlakukan dirinya dan musiknya, di Homicide, Bars of Death dan Grimloc, semacam rambu untuk melakukan sesuatu. Kami mencuri dengar misalnya, bahwa pendistribusian keuntungan project musik MV, beberapa persennya digunakan untuk membantu kelompok-kelompok akar rumput; kelompok-kelompok yang Ia berhutang inspirasi dan sebagainya. Artinya project musik yang Ia kerjakan itu milik semua orang, Ia menyederhanakan yang rumit di skena dan industri musik. Memberi pelbagai macam peluang untuk “Ah kamu bisa kok melakukan ini tanpa harus tunduk dengan suatu rezim dalam skena musik”, menciptakan parameternya sendiri, menciptakan jalan dan komunitasnya sendiri. Hal-hal semacam ini yang membuat kami menjadi lega dan ringan menyikapi Kota & Ingatan. Kami tahu harus melakukan apa, dan menuju kemana.

  1. Dalam sebuah artikel tentang kalian di sebuah media seni-budaya Yogyakarta, kalian lebih menyebut diri kalian tengah ‘berteater’ ketika bermusik. Bagaimana maksud dari hal tersebut?

K: Salah satu hal yang kami sukai dari poster-poster teater yang akrab kami jumpai semasa kuliah adalah semua tim kreatif hingga penata lampu dituliskan di poster acara. Bagi kami itu penghargaan kecil yang paling ideal untuk semua yang terlibat dalam sebuah pementasan. Meski kami sadar, barangkali hal itu hanya akan terjadi di teater kampus yang kesemua orang di dalam pementasan tengah berada dalam situasi dinilai. Di luar semua itu, ada prinsip kesetaraan disana.

Betapapun sutradara adalah orang terpenting dan paling banyak disorot, namun kami melihat semangat kolektif yang diusung teater, belum ada padanannya di medan kesenian yang lain. Hal ini yang berusaha kami terapkan di Kota & Ingatan dengan kami menekankan pemahaman bagi kami sendiri bahwa yang kami perjuangkan di atas panggung itu adalah catatannya, bukan tentang siapa kami. Artinya, kami berlima hanyalah aktor/pelisan naskah di atas panggung, dan ide adalah sutradaranya, dan naskah adalah hal yang mesti disampaikan sebaik mungkin ke pendengar. Sehingga, tantangannya juga besar bagi kami untuk menghadirkan naskah/catatan ketika berada di atas panggung. Karena kalau di teater, kepentingannya adalah bagaimana bisa menghidupkan naskah sebaik mungkin. Jadi gampangnya, kami selalu berusaha menghindari mitos ketokohan, atau sosok tertentu yang diidolakan  — dan alih-alih menyempitkan arti sebuah pementasan — dengan ngemeng sendiri “Hei, disana ada kawan yang mendokumentasikan, ada mas-mas yang di bagian FOH, ada kawan-kawan yang menata lampu, ada tanggung jawab catatan yang mesti kamu sampaikan, ini bukan tentang dirimu sendiri” meski kami sadar dan tahu betul di musik, hal ini akan sulit diterapkan dan banyak kecolongannya walau kami melakukan pentas tunggal sekalipun.

Pada hal yang lain, pemahaman semacam tadi juga membuat kami lebih terbuka – meski masih sulit diamini – untuk gonta-ganti pemain di atas panggung, siapa pun bisa membawakan catatan Kota & Ingatan. Mengenai hal ini, sadar atau tidak, skena Dangdut sudah melakukannya dengan lagu yang bisa begitu cair pindah tangan sana-sini meski ada banyak aspek yang mesti dicermati lagi.

Belakangan, makin kesini kami merasa bentuk yang paling ideal untuk Kota & Ingatan hari ini dan kelak mungkin adalah komunitas. Walaupun sekali lagi masih sulit untuk diamini, tapi pelan-pelan kami cerna, pelan-pelan kami arahkan, pelan-pelan kami lakukan. Dan ya, kami sangat senang dengan Dendang Kampungan. Lihatlah mereka, sudah berapa generasi hingga DK yang kita kenal sekarang, dan siapapun begitu riang saat DK main dengan dan tanpa pemain inti yang acap bergonta-ganti. Mereka itu sudah melampaui band. Mereka adalah Komunitas.

  1. Mengapa memilih membawakan tema-tema sosial? Sesungguhnya apa gagasan inti yang ingin disampaikan kepada pendengar?

K: Kami merasa tidak begitu tabah untuk membuat catatan yang plek tentang diri kami sendiri. Ada banyak orang di sekeliling kami, ada banyak kenyataaan-kenyataan yang tidak sesuai dengan yang kami tahu, ada banyak ketimpangan sosial yang kesemuanya itu berimbas ke kehidupan kami secara langsung dan tidak langsung. Kami memilih untuk mencatat itu semua; semua yang sempat kami temui di jalan selepas pulang bekerja; dimanapun, melalui apa yang kami sanggup lakukan; melalui apa yang begitu riang kami kerjakan; melalui musik; melalui Kota & Ingatan.

Gagasannya, kami menjembatani kabar dalam medium musik. Dan kami senang jika catatan itu bisa memantik diskusi, pun menyulut kawan-kawan yang pernah bersentuhan dengan Kota & Ingatan dalam satu dan lain hal untuk membaca kembali, mencari tahu, lalu dapat mere-produksi kembali isu-nya dengan cara masing-masing.

  1. Masih dikutip dalam sebuah artikel tentang kalian, sempat ada yang menyinggung tentang skema “Trilogi Catatan”. Apa itu “Trilogi Catatan” dan apa yang ingin disampaikan melaluinya?

K: Oo.. itu tiga naskah yang dikembangkan dari satu catatan panjang tentang Permanent Performance of Violance (kekerasan yang diperformakan). Agar terarah dan mudah mengerjakan teks dan aransemennya, tiga teks pertama kami susun dari itu (PPoV). Kami mencocokkan apa yang diungkap Blom Hansen dengan yang menahun terjadi di Indonesia, pun di awal 2016 saat itu. Awal 2016 kan lagi santer-santernya ormas mengakuisisi ruang publik di Jogja tuh, hingga terjadi peristiwa pembubaran paksa acaranya AJI Jogja, Survive Garage dan perampasan karya kawan-kawan di Iam Project, menyusul pula kejadian di asrama Papua. Kejadian itu mengurai ingatan kami kembali bahwa ternyata yang selama ini terjadi di Indonesia dari ujung timur ke ujung barat; dari zaman orba hingga hari ini memiliki pola yang sama: kekerasan sebagai posisi tawar suatu rezim/ kalangan untuk menyampaikan keberadaan diri mereka atas liyan. Kami melihatnya dari kaca mata pertunjukan. Kekerasan butuh untuk selalu mereka performakan, butuh untuk selalu mereka tampilkan berulang-ulang. Maka dalih semacam Agama, NKRI Harga Mati, Demi Jogja yang Berhati Nyaman, dsb hanyalah omong kosong untuk menutupi tujuan utamanya: penguasaan atas lahan, penguasaan atas kecemasan banyak orang. Di Jogja, lahan parkir diperebutkan. Tanah yang menahun ditinggali bisa dirampas sewaktu-waktu dengan SK yang tidak jelas dan menyalahi hukum: SG dan PAG. Hal ini yang kemudian kami rangkum dalam Alur, dan Etalase.

Sedang Peluru hadir sebagai sudut pandang dari keluarga korban yang ditinggalkan karena dampak dari PPoV ini. Semacam hari ini orang berbondong-bondong setiap tahun mendesak pengusutan tuntas kasus terbunuhnya wartawan Udin. Itu seperti mengamini mitos di kalangan para pembunuh yang konon akan selalu dihantui korbannya, atau dalam bahasa kami: orang yang kamu binasakan, akan kembali mencarimu, menuntut pertanggung-jawabanmu, kembali kepadamu seperti peluru yang kamu muntahkan, seperti pisau yang kamu hunuskan, seperti peta yang kamu lenyapkan, seperti fakta yang kamu hilangkan.

  1. Bagaimana proses kreatif kalian dalam bermusik, entah itu dari penggarapan lirik, lagu, musik, dan lainnya?

K: Selalu dari teks, kemudian kami kerjakan bareng-bareng aransemen musiknya, menentukan desain soundnya, dan jadilah lagu. Awalnya dimulai dari mensarikan teks berbentuk lirik dari catatan panjang yang kami sepakati. Lalu teks disodorkan, kami coba tawarkan ke masing-masing kami, kalo cocok: diambil, kalo engga relevan: dibuang. Pun begitu saat musiknya kami kerjakan kemudian. Biasanya kami pake meteran “Ini lagu bisa ngebuat kamu ngebayangin visualnya ngga? Kamu bisa membayangkan lalu lintas orang-orang di dalamnya? Cuaca di dalamnya?” biasanya lagu yang kami anggap berhasil dan diteruskan itu yang lolos kurasi tadi. Tentu setelah melalui kesepakatan yang lebih sederhana, semacam“lagunya udah nyaman dimainkan nih”. Ya intinya, yang setidaknya bagi kami cukup memuaskan hasrat estetis masing-masing. Ada banyak negosiasi di Kota & Ingatan. Banyak ngobrolnya ketimbang main musiknya. Akibatnya, bisa dibilang mudah sekaligus tidak, karena keras kepala semua. Mudah, karena dalam hal pengkaryaan kami tidak punya kesulitan untuk menjadikan satu lagu persis seperti yang kami rencanakan. Tidak mudah, karena lumayan alot saat mendiskusikan sesuatu, aransemen misalnya, semacam “Ini progresi akornya umum banget, duh itu terlalu umum, masa cuma segitu doang?” itu seru dan banyak tantangannya, dan jadi bisa berulang kali terjadi: ide diterima dan dibuang, begitu seterusnya.

Hal lain yang sangat kami perhatikan, aransemen musik jangan sampai menutupi teksnya. Musiknya harus menghidupkan teksnya. Jadi bukan soal seberapa bagus aransemen yang dihasilkan; seberapa bagus nada yang kamu mainkan “ini udah bisa menghidupi maksud teksnya belum?” bagi kami kenyataan di balik teksnya itu jauh lebih penting ketimbang musiknya. Sehingga selain peluang untuk unjuk skill di Kota & Ingatan itu sesuatu yang sangat mustahil, sejauh ini kami lebih prefer bikin rekaman lagu yang singkat, cukup dan setidaknya padat bagi kami. Tidak bertele-tele. “Jika tiga menit cukup, kenapa harus lebih?” Ini selalu jadi PR ketika kami live dengan acara yang menghendaki durasi panjang.

  1. Bila boleh narsis sedikit, sesungguhnya apa yang membedakan kalian dengan unit lainnya?

K: Apa ya? Kami juga bingung.

  1. Apa makna musik bagi kalian?

K: Dari musik kami berlima bertemu, musik pula yang mempertemukan kami dengan banyak orang, menyambungkan banyak kabar, menjembatani banyak ide. Musik adalah hal kecil yang kami nikmati; hal kecil yang bisa kami kerjakan dengan cinta yang besar.

  1. Apa yang ingin kalian sampaikan melalui “Peluru”?

K: Itu hanya nukilan paling retak dari yang begitu teguh diperjuangkan banyak korban dan keluarga korban di area konflik. Semangat Peluru ada pada mereka semua. Kami hanya memberi sentuhan dengan musik. Sama seperti catatan lainnya, Peluru –- jika berhasil dan mengenai sasaran –- adalah pemantik bagi kawan-kawan yang pernah bersentuhan untuk kemudian mencari tahu – membaca – memulai obrolan kembali dan begitu seterusnya, perihal narasi besar yang menahun mengiringi resistensi kolektif-kolektif kecil dan masyarakat yang teguh merawat ingatannya saat represi negara di waktu yang bersamaan juga tidak kenal renggang.

  1. Kalian menggunakan blog sebagai medium penyampaian gagasan-gagasan kalian. Ini cukup unik untuk dilakukan oleh sebuah band. Bagaimana ide ini bisa terbentuk, dan apa yang ingin disampaikan melalui blog ini?

K: Pada dasarnya kami menggunakan media sosial (apapun itu) untuk menjembatani kabar dari banyak kawan yang menurut kami genting dan penting. Menyerempet kanal berita hanya saja basicnya media kolektif musik. Setahu kami ini bukanlah hal yang baru. Dulu Ilalang Zaman pernah melakukannya. Anti Tank juga memanfaatkan sosmednya sedemikian. Sedang kami hanya mengadopsi apa yang dikerjakan kawan-kawan di kanal-kanal alternatif, termasuk WARN!NG.

Mungkin kelak kami bisa saja bernasib seperti Stafa yang memili web band pribadi stafaband.com, kemudian beralih jadi portal unduh bebas pelbagai lagu, tidak menutup kemungkinan Kota & Ingatan dalam lain kasus akan menjadi begitu, dengan memiliki web/blog yang kemudian berkembang menjadi portal berita alternatif semacam Suara Papua atau Serunai. Pengennya sih seperti itu, namun saat ini blog kami masih sebatas tempat pengarsipan aktivitas Kota & Ingatan. Belum ideal seperti yang kami harapkan. Karena ada keterbatasan waktu dan tenaga di tubuh Kota & Ingatan sendiri, jadinya keinginan untuk memiliki blog/web yang menampung tulisan dari banyak kawan – yang menurut kami genting dan penting tadi – masih jauh panggang dari api. Menjalankan blognya juga santai kok, ngga muluk-muluk, sambil jalan aja, “ya semisal memungkinkan syukur, jika belum memungkinkan dan masih seperti sekarang juga nggak apa”.

  1. Apa rencana terdekat dan rencana jangka panjang kalian dalam bermusik bersama?

K: Terdekat, jika cukup rezeki kami ingin bikin album. Jangka panjang, entahlah.

  1. Apa harapan kalian untuk Kota & Ingatan?

K: Bisa selalu berkumpul, duduk bareng, makan bareng, itu sudah cukup.

Teks

[Alur]

pagi telah jatuh mengurung setiap ingatan pada musim yang beranjak tua; waktu lelah dan jenuh menubuhkan laku-ungkapan yang membusuk dan berulang ulang. semua seperti biasa; seperti hari kemarin: terkurung pada kota yang tergenang ketakutan dan lupa yang selalu kita amini (telah kita sesali)


[Peluru]

pada peta yang dilenyapkan; pada segala yang dihilangkan: entah mengapa selalu kubayangkan: diriku terbaring di keramaian, yang menepis seluruh ingatan. entah mengapa perih dan geram tak berhenti, kita serahkan kepada malam yang terbakar dan gerimis: tinggal duka di ujung beranda. pada peta yang dilenyapkan; pada segala yang dihilangkan: darah kami yang dulu tertanam, telah tumbuh menjelma peluru: yang mencari setiap persembunyian. yang akan terus mencarimu. peluru-peluru itu akan terus mencarimu. dan peluru-peluru itu akan terus mencarimu. peluru-peluru itu akan terus mencarimu. dan peluru-peluru itu akan terus mencarimu. peluru-peluru itu akan terus mencarimu. dan peluru-peluru itu akan terus mencarimu.


[Etalase]

berayun-ayun kita saling menggenggam satu dan lainnya dalam kebingungan yang sama; kekalahan yang sama; kebohongan yang sama. pada setiap pikiran yang kita lukai; pada setiap luka yang kita asapi; pada setiap luka yang kita gerami: benar yang selalu kalah, diucapkan; benar yang selalu kalah, dituliskan: kata hati yang kukup, tercerai, dan cahayanya redup: tenggelamnya pagi setiap pikiran.


[Pendar]

tetaplah terjaga, seperti kejenuhan yang paling jenuh

dalam kerumunan yang paling riuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

.

tetaplah terjaga, seperti kejauhan yang paling jauh

dalam perburuan yang paling piyuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

.

tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.

.

dan tetaplah terjaga, seperti kebohongan yang paling satir

dalam kemurungan yang paling kapir

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

.

dan tetaplah terjaga, seperti kekalahan yang paling amis

dalam kesombongan yang paling lamis

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.


[Kanal]

sungai dalam tubuhmu tempat aku membayangkan waktu yang terjatuh berguguran satu per satu umur kita yang masih jenuh menyeduh janji yang tak pernah tuntas atas segala yang telah. sungai dalam tubuhmu tempat aku mengkhayalkan mimpi yang terapung bertumbuhan satu per satu sauh kita yang masih jenuh menyeduh janji yang tak pernah lepas atas segala yang telah. kita tak kenal berhenti; tak akan  kenal berhenti; enggan tahu letak perhentian itu; sebelum usai. sebelum usai.


[Derit]

kau yang selalu dan begitu sembunyi, dari yang selalu menghujam dan selalu memburumu.


[memoar]

musim menertawakan sungaiku yang dahaga

namun gadis rumbai jagung

pertanyaan tak berawan

memetikku dari angin dengan daun-daunnya yang kemilauan

bunga lili putih taman segala bermula

 

kita temu dan luruh menatapi persimpangan yang tak pernah bertemu

gadis rumbai jagung duduk di sudut itu

 

dan hujan, aku hanya menjelma hujan

hujan

dan pergi

dan kering