Merapal Kurun: Mengukur Waktu, Mengeja yang Telah

Nyaris setahun pasca merilis debut album Kurun pada November 2018 lalu, Kota & Ingatan merilis kembali album penuh mereka dalam format studio session, Merapal Kurun.

Merapal-kan kembali catatan demi catatan dalam album Kurun, Kota & Ingatan memainkan 9 dari 10 catatan album ini secara live.

Alur didapuk sebagai catatan pembuka sesi Merapal Kurun yang dirilis via Youtube pada Rabu (28/08).

Direkam pekan akhir Juli, di Jogja Audio School (JAS), Kota & Ingatan menggubah set studio langganan banyak musisi Jogja ini menjadi sedikit berbeda.

”Tantangannya, gimana merubah studio JAS agar terlihat nggak biasa? Karena ada banyak banget musisi yang bikin studio session di JAS, dengan set yang nyaris sama,” ungkap Aditya Prasanda, pelafal teks kugiran yang berdiri pada medio awal 2016 tersebut.

Aditya menambahkan, ”Di situlah muncul gagasan menutup area-area paling familiar di JAS dan menembakkan proyektor di satu sisi studio. Meski di lapangan, ada beberapa spot khas JAS yang tak terhindarkan dan terekam.”

Selain Alur, terdapat 8 catatan lain yang akan diunggah Kota & Ingatan secara berkala melalui kanal Youtube mereka.

Menariknya, hanya Memoar, single pembuka album Kurun yang tidak disertakan dalam sesi live ini.

”Kami terkendala waktu, meski sudah direncanakan jauh hari, ekseskusinya tetap mepet dan terburu-buru. Jadi ngga sempat ngulik Memoar,” jelas Maliq Adam, gitaris sekaligus multi instrumentalis Kota & Ingatan.

Rekaman studio session, Merapal Kurun sekaligus menjadi ajang temu kangen, merayakan kepulangan sejenak pembetot bass mereka, Addie Setyawan yang bermukim dan melanjutkan hidup di Meksiko.

Tak hanya itu, Merapal Kurun juga menjadi sesi pertama Kota & Ingatan memainkan fullset debut album mereka secara live.

Sejak terbentuk tahun 2016, di antara kelindan aktivitas personelnya yang begitu cabar, Kota & Ingatan mengisi sejumlah panggung di Yogyakarta.

Setiap tahun, Kugiran yang beranggotakan Herda Mukti Setiyawan (gitar), Addie Setyawan (bass), Maliq Adam (gitar), Aji Prasetyo (drum) dan Aditya Prasanda (pelafal teks) ini rutin merilis single. Kurun merupakan debut album penuh mereka.

Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Produser:

Kota & Ingatan

Pengambil Gambar:

Asep Taufik Hidayat

Etno Mansur

Nerpati Palagan

Penyelaras Gambar:

Nerpati Palagan

Pengarah Proyektor:

Aleyo Sas Melas

Teknisi:

Miko Kim
Dzunnurain Achmad Azhar
Cahyo Kukuh B.K.

Perekam dan Penata Suara:

Aditya Kurniawan

Muhammad Kemal Akbar

Maliq Adam

Penyelaras Suara:

Maliq Adam

Narahubung:

Da’watul Khoiroh

Kurun

Kota & Ingatan Resmi Merilis Album Penuh Pertama ‘Kurun’

Processed with VSCO with m5 preset

Penantian panjang itu akhirnya bersambut. Kelompok musik asal Yogyakarta, Kota & Ingatan resmi merilis album penuh pertama mereka, Kurun.

Album ini dirilis melalui platform digital Youtube, Spotify, Itunes-Apple Music (dengarkan disini) dan dijajakan secara fisik dalam format CD di beberapa toko musik pada 16 November 2018.

Kurun, yang rentang pengerjaannya nyaris tiga tahun, merupakan kumpulan catatan yang merangkum peristiwa pula beragam tegangan yang terjadi di Yogyakarta selama 2016 hingga 2018.

Dalam praktiknya, rentang tersebut melebihi waktu dan ruang itu sendiri. Percakapannya pun menjadi lebih luas sebab kejadian-kejadian di dalamnya, terjadi menahun, relevan hingga hari ini, dan mengejan di banyak kota di Indonesia lainnya.

Kurun sebagai album kemudian menjelma refleksi dari apa yang terjadi di setiap sudut gang dan jalan besar; yang terjauh dan terengah; yang hiruk pikuk di tengah gempuran zaman; yang saling sikut dan tusuk dari belakang; yang ayat-ayat diperjual belikan di jalanan; yang kekerasan dibungkus dengan beragam nilai-nilai moral dan ideologi; yang saling tumpang tindih dan kebanjiran infomasi; yang seluruh dan menjadi cara kerja negara hari ini; yang terjadi di Yogyakarta dan kota-kota lainnya.


Album: Kurun

Artist: Kota & Ingatan

Durasi total: 46:00 (empat puluh enam menit)

Tanggal Rilis: 16 November 2018

Tautan dengar: http://smarturl.it/albumkurun


Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Produser:

Kota & Ingatan

Direkam di:

Studio Jogja Audio School, Emobi Studio dan T-Studio, Yogyakarta.

Perekam dan Penata Suara:

Maliq Adam, Aditya Kurniawan dan Putranto Aditomo

Penyelaras Akhir:

Putranto Aditomo


Narahubung: 0853-2672-5931

Instagram: @kotadaningatan

Surel: kotadaningatan@gmail.com

Blog: https://kotadaningatan.wordpress.com

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UC8OpQ6gGK7hweqHwLt1rqcw

Spotify: https://open.spotify.com/artist/2hFPwKplvODiHpCT80CEJJ

Itunes dan Apple Music: https://itunes.apple.com/id/artist/kota-ingatan/1226681312

Soundcloud: http://soundcloud.com/kotadaningatan

CD Kurun

Kurun

(Hardpack + Booklet)

Rp. 55.000

Selain dapat didengarkan melalui platform digital, Kurun juga tersedia dalam format CD. Silahkan pesan lewat nomor berikut (0853-2672-5931) atau hubungi toko musik rekanan kami di bawah ini:

Copy of Copy of dazzle (2)CD

dazzle (1)


[Update per 2019] Teman-teman juga bisa mendapatkan album Kurun di sejumlah toko musik rekanan kami dengan harga yang sama.

1

 

[Interview] Mengerti Lebih Banyak dengan Kota & Ingatan

Menjelang perilisan album penuh pertama Kota & Ingatan, ‘Kurun’ pada 16 November 2018, di sebuah malam di bulan Oktober, Kota & Ingatan berbincang panjang kali lebar dengan Kharsa.id.

Versi ramah baca dari wawancara tersebut kami sematkan di bawah ini:

Kharsa Kota dan Ingatan

K: Selamat malam teman-teman

KDI: Selamat malam

 

K: Oke, hari ini kami sedang bersama Kota & Ingatan. Dari hasil pendengaran kami, musik kalian cukup unik, opo jebul aku wae sing ra dong, hahaha. Oke silahkan perkenalkan diri dulu mas-mas sekalian

 

Adit: Saya Adit, yang biasanya ngulur kabel, kesehariannya jadi buruh ketik di sebuah kantor di Mandala Krida

 

K: Buruh ketik itu joki skripsi mas? Hahaha. Silahkan sampingnya!

 

Adam: Saya Adam, aku bantuin Adit nggulung kabel dan kegiatan sehari-hari emang nggulung kabel juga.

 

Indra: Saya Indra, di Kota dan Ingatan, saya menyesuaikan dengan profesi kedua orang ini, saya berperan sebagai penggulung kabel ketiga, kadang nyambi tukang genjreng. Keseharianku paling cuman momong ponakan doang sih

 

K: Pertanyaan pertama mas, kenapa namanya Kota dan Ingatan?

 

Adit: (Kota & Ingatan) itu sebenarnya judul lagu pertama, Alur, kalo udah pernah denger. Jadi sekitar 6 bulan pertama, kita bikin lagu belum punya nama kolektif tuh, adanya lagu itu. Pas dilihat kok oke juga nih, terus akhirnya dipilihlah nama itu (Kota & Ingatan) jadi nama kolektif. Lalu judul yang namanya Kota & Ingatan tadi diganti sama Alur. Dasarnya aja anak-anaknya males nyari nama, gak kreatif orang-orangnya. Semua judul lagunya cuman satu kata pula, hahaha

 

K: Itu lagunya emang semua anggota yang nyiptain atau emang ada satu orang yang spesialis pembuat lagu, lirik?

 

Adit: Awalnya aku nulis teks sama genjreng, terus habis itu aransemennya bareng. (Nyambung obrolan di atas) Itu judulnya cuman satu kata juga bukan karena gimana-gimana, emang karena mungkin saat ini Kota dan Ingatan masih kesulitan untuk bikin judul yang panjang kali ya, soalnya gak mudah kayaknya bikin judul yang panjang. Mungkin saat ini belom, biar lebih simple aja sih.

 

K: Biasanya lagu-lagunya diambil dari pengalaman apa mas?

 

Adit: Besok November kan rencananya mau rilis album tuh. Nah di dalamnya itu ada 9 materi, plus satu Memoar, (lagu yang terakhir disebutin) itu sebenernya bonus track. Materi di album Kurun diambil dari tahun 2016-2017, isu yang diangkat semacam rentetan kejadian yang berjalan secara berurutan di Jogja. Kenapa kami namain albumnya Kurun, itu karena (istilah tersebut) lumayan memayungi 9 isu di dalamnya gitu, dalam rentang tertentu, meski lagu-lagunya bukan dari satu tema yang sama. Macam Alur, Etalase, dan Peluru misalnya, ketiga lagu itu berangkat dari catatan yang sama tentang permanent performance of violence. Ingat gak tahun 2016 ada pembredelan pameran, diskusi, dan nobar di AJI (Aliansi Jurnalis Independen)? gak lama dari situ kami bikin Alur, itu catetannya sama. Karena kami dari pertunjukan, kami ngeliatnya dari kaca mata pertunjukan. Kami melihat orang-orang yang mengatasnamakan Pancasila, dan ideologi tertentu lantas mengokupasi ruang publik itu seperti performer di atas panggung. Di lapangan, mereka memainkan politik identitas, jadi mereka cuman menggunakan simbol-simbol (agama, pancasila, nasionalisme) untuk melumrahkan kekerasan, menyebar ketakutan dan sebagainya. Kami melihat korelasinya udah ada dari jaman dulu, dari jaman Soeharto berkuasa juga seperti itu, Nazi-pun juga melakukan hal yang sama gitu. Jadi simbol Pancasila, nasionalisme, agama, itu memang digunakan untuk tameng luarnya doang lah biar orang jadi “oh iya bener nih dia melakukan itu (kekerasan) karena untuk memperjuangkan ini-itu”. Di Jogja misalnya, kami melihat kekerasan digunakan untuk berebut lahan.

 

Lalu penerapannya dalam lagu seperti bikin cerpen lah, kami bikin dari beragam sudut pandang. Misalnya Alur, Peluru, Etalase dan terakhir Kurun yang dibikin dari 3 sudut pandang berbeda. Alur dan Etalase berangkat dari orang-orang yang melihat hari ini, kami menceritakan tentang ketegangan yang ada dan korelasinya hari ini. Lalu Peluru itu brangkat dari sudut pandang keluarga korban. Keluarga korban yang dilenyapkan dan ditinggalkan. Dulu ada mitos yang berkembang di Padang, kampungku, kalo orang membunuh akan dihantui terus sama arwah korbannya. Aku percaya mitos itu juga terjadi pada korban pembelokan sejarah. Aku yakin dalam satu dan lain hal, para pelaku diburu oleh mereka yang dibungkam, nah Peluru berangkat dari sudut pandang korban. Sementara Kurun, semangat teksnya berasal dari potongan puisi Widji Thukul, kalo gak salah dia pernah bilang ke anaknya, ”wani kalo besok orang bertanya bapakmu siapa, bilang bapakmu itu orang berani,” kayak gitu deh intinya, akhirnya kita bikin Kurun. Dalam Kurun, dengan bahasa kami, si bapak dan mereka yang dihilangkan seperti berpesan, ”jika kelak bapak hilang, cari kami dimana kebenaran berada,”. Kami mencoba membayangkan, dan berusaha menangkap dari posisi orang-orang yang dihilangkan gitu. Kurun di lagu berbeda dengan Kurun di album (Di Album Kota & Ingatan berjudul Kurun, ada lagu dengan judul yang sama dengan album-red). Kurun di lagu lebih menceritakan pesan orang yang dihilangkan pada keluarga terdekatnya, makanya judulnya Kurun seperti rentang waktu yang gak mungkin hilang meskipun dia pergi. Sedangkan Kurun di album itu mencakup rentang waktu saat kami mencatat semua kejadian di dalam album pada 2016-2017. Terus ada lagi, Kanal yang dibuat setelah ada protes masyarakat soal air-air di pemukiman di Jogja yang kesedot karena pembangunan hotel. Lalu, Pendar yang berangkat setelah aksi pengepungan asrama Papua, berangkatnya dari satu isu tapi enggak melulu tentang itu sebenarnya. Kami sadar ketika itu sudah di lepaskan, percakapannya jadi lebih luas. Ketika lagunya bergulir, akan beririsan dengan banyak isu lain yang terjadi di Indonesia. Teman-teman pun bisa melihat dari banyak hal.

 

K: Hal-hal yang kalian angkat di album itu emang concern yang kalian angkat sehari-hari, hasil pengamatan harian lalu terkumpul jadi lagu, atau emang wah kayaknya bikin lagu enak nih, wah kayaknya cari bahan ah? Pendekatan mana yang kalian gunakan?

 

Adit: Kalau aku sih ngeliatnya Kota dan Ingatan itu bukan orang yang terlibat langsung di dalam, tapi mungkin masyarakat yang berusaha menerjemahkan ketegangan disekitar lingkungannya karena gak semua temen-temen yang ada disana langsungkan. Kita bukan orang yang terjun di lapangan langsung tapi bukan berarti kita gak berhak untuk menerjemahkan ketegangan itu. Terlebih kami yakin, ketegangan (rentetan isu tersebut) besar dan kecil ada dampaknya sama kita sendiri. Kayak penggusuran, mungkin hari ini di Kulon Progo, besok bisa jadi di Jogja. Sebagai musisi yang paling bisa kami lakukan ya bikin musik  untuk minimal memancing diskusi, memancing orang untuk cari tahu, wah ada apa sih di Kulon Progo, sesimpel itu pengennya. Kami yakin dari musik doang ngga mungkin bawa perubahan besar dan seketika, tapi minimal itu yang bisa kita lakukan.

 

K: Kenapa kekerasan?

 

Adit: Kebetulan aja ketegangan yang paling kerasa di Jogja waktu itu memang konflik kekerasan. Dan kami yakin kekerasan itu masih ditampilkan dengan cara yang sama hari ini. Maksudnya mereka membungkus kekerasan dengan agama, nasionalisme dan segala macam. Padahal ya tujuannya untuk menguasai sesuatu gitu. Waktu liat Senyap, kalian inget gak sih? waktu ada film Senyap, ada satu adegan yang ngelihatin (salah satu anggota) Pemuda Pancasila berusaha membenarkan pemerkosaan yang mereka lakukan gitu. ”Aku memerkosa orang-orang Cina demi Pancasila,” adakan adegan itu masih inget gak? Itu ngeri banget. Merekapun mungkin di doktrin seperti itu, dan aku yakin orang-orang FPI itu juga sama, mereka mendoktrin (kekerasan) itu benar, “darah mereka halal lho,” nah kalo udah sampe situ kan ngeri banget. Padahal mereka juga orang-orang yang sedang mencari jati diri, gak tau kalo yang mereka dapatkan dari Imamnya ini tepat atau enggak. Akhirnya kami merasa ngeri dengan kekerasan yang dibungkus dengan banyak hal. Ini mengerikan dan ini akut terjadi di Indonesia.

 

K: Tapi aku penasaran sih sama orang-orang yang ngajak ngomong dan merekrut mereka, itu persuasifnya oke banget gak sih?

 

Adit: Iya, memang serem banget

 

K: Aku jadi penasaran sih kalian ini awal ketemunya gimana sih, berarti dari 2016 ya? Kenapa jadi akhirnya ngobrolin ini dan berkaryanya lewat musik?

 

Adit: Kita sebenernya temen lama, tapi baru bikin kolektif ini tahun 2016. Sebelumnya kita cuma nongkrong bareng, jadi masing-masing punya kesibukan sendiri dan kayaknya pertama kali kita bikin musik bareng itu di Kota dan Ingatan ya. Sebelumnya mungkin aku cuman sama Indra, trus sama Adi. Sebaliknya juga gitu. Kebetulan kan kami dari ISI, sama-sama anak-anak pertunjukan semua kan, satu jurusan semua. Di satu jurusan itu banyak tugas-tugas nih, biasalah tugas ala-ala anak seni aneh-aneh itu. Nah terus terpaksalah harus bikin banyak project gitu, irisannya dapet nih akhirnya. Aku sama Indra bikin project, sama Adi juga bikin project, pun Adam sama Adi dan Indra. Adi itu sekarang lagi di Mexico dia, yang main bass, lagi kerja disana. Di situlah ketemunya, dari nongkrong sebenernya. Baru serius ngeband itu setelah lulus semua. Jadi pas kita kuliah malah cuman makan bareng, cengegesan, setelah lulus baru, “bosen liat mukamu kalo gini-gini aja, hahaha ngapain gitu yuk”.

 

K: Lalu kenapa musik jadi pilihan media berkaryanya?

 

Adit: Yang paling dekat buat kami (musik) itu soalnya, mungkin kalo atlet kita main basket kali ya, memperjuangkan apa gitu, hahaha

 

K: Kenapa bikin lagu tapi gak pengen didengerin orang banyak gitu?

 

Adit: Eh bukan gitu maksudnya, emang lagunya gak laku, hahaha

 

K: Itu kan akibatnya mas, kalo dari sebabnya nih, kenapa kalian bisa bilang kalo mungkin dari 5 yang ndengerin, yang nyantol dikit nih

 

Adam: Bukan gitu juga sih haha tapi mungkin kitanya aja yang gak pede nih, mau gak ya orang ndengerin musik kita gitu aja sih.

 

Adit: Mungkin lebih tepatnya gini sih, kalo kita gak mau didengarkan gak mungkin kita naro di soundcloud atau youtube, itu bullshit ya pasti, cuman lebih jelasnya adalah pada dasarnya setiap musik punya pendengarnya masing-masing. Mungkin saja ya, kami gak tau nih belom riset lebih dalam, mungkin saja ketika (lagu) Kota dan Ingatan sudah dipublish, sudah di lepaskan di media sosial dan segala macem platform, pendengarnya memang gak banyak, gak massive, mungkin itu yang lebih tepat ya.

 

K: Mungkin kami yang gak tau atau gimana yah, tapi gimana mengimplementasikan ide-ide kalian, kayaknya gagasan ini deh yang diangkat itu kedalam bentuk implementasinya adalah nada, apakah itu ada cara-cara khusus dari kalian?

 

Adam: Dari mood misalnya. Adit yang nulis ini kan, terus Adit menyampaikan ke kita, terus kita coba main musik, kebayang itu nuansanya kayak apa, nanti kita olah lebih jauh lagi. Kita membayangkan nuansanya aja dulu, per-teks itu kayak gimana, itu nanti kita kembangin lagi.

 

Adit: Kejadiannya keliatan di Peluru nih, soal penghilangan paksa dan segala macem, kalo didenger itu militer banget gitu ada suara hentakan sepatu tentara, temen-temen memasukkan elemen itu, mungkin karena kejadiannya sangat tegang dan ibaratnya seperti baku hantam di medan perang kali ya.

 

Adam: Ketika udah jadi, ya bener keliatan kaku gitu. Ini memang paling “keras” sendiri musiknya, “keras” itu maksudnya kayak tentara banget, bukan keras yang scream (musik metal) tapi lebih ke kayak kita menyebutnya musik yang nuansanya keras, tegang.

 

K: Jadi apa yang membuat kalian memutuskan untuk membuat ini sebagai sebuah album?

 

Adit: Ya gak harus album juga yah, kenapa ya, hahaha. Proses pengarsipan sih sebenernya, dan kita juga menyadari itu. Agak sulit sebenernya, kalo banyak lagu dikeluarkan satu per satu, ribet juga. Terus kenapa hari ini, karena sempetnya sekarang, dari kemarin itu ngumpulin dana dan waktu. Ini sebenernya satu tahun perjalanannya, dari 2017 bikin dummy lagu-lagunya, maksudnya bikin dummy itu biar saat masuk rekaman bisa cepet karena kan kita nyewa, jadi masuk rekaman tinggal rekam karena udah ada bayangan. Setengah tahun bikin dummy, lalu setengah tahun rekaman dan bikin bentuk fisik cetaknya. Makanya baru hari ini.

 

K: Tapi emang untuk bikin sebuah album itu modalnya lumayan ya?

 

Adam: Tergantung pada siapa bertanya, pada siapa bandnya, karena bikin album itu sangat bisa diakali dengan banyak cara, tapi kan masing-masing orang punya pandangan sendiri album yang oke itu kayak gimana gitu. Kalo untuk kami, yang jelas butuh waktu. Karena kalo modal, seberapapun modal kita, bisa jadi album, mau modal 10 juta atau 15 juta atau 200ribu pun bisa jadi album, bisa rekaman sendiri di rumah misalkan.

 

K: Kalo kalian kemarin gimana tu?

 

Adam: Kalo kami mix sih, ada yang emang butuh rekam di studio karena kita belum punya ruangan. Kalo instrument-instrument yang gak butuh ruangan, kita bisa rekam dirumah

 

K: Emang biaya sewa itu berapa?

 

Adit: Itu balik lagi ke studionya karena di Jogja banyak variannya. Pada umumnya di Jogja itu 1 shift, 8 jam itu masih dibawah 1 juta.

 

K: Sedangkan kalian butuh berapa shift untuk 1 album?

 

Adit: Oh tergantung dari si gitar berapa, vocal berapa, bass berapa, jadi sebelum masuk ke studio rekaman, kita udah bikin jatah waktu per orang, mau gak mau kamu dalam 8 jam harus kelar  satu album. 8 jam itu bisa diselesaikan dalam: kayak aku kmaren misalnya dalam 3 hari, jadi karena waktu itu aku masih bolak balik Solo, jadi nyicil karena stamina juga gak mungkin ngejangkau selama 8 jam rekaman. Kadang-kadang harus dicicil hari ini 2 jam dulu deh, minggu depan 2 jam lagi ngerekam 2 lagu. Ngakalin aja. Maksud Adam tadi kenapa ngerekam di rumah, biar menekan biaya juga sebenernya, tanpa harus rekaman di ruangan yang bagus, dengan rekaman di ruangan yang biasa aja, kita berusaha untuk rekaman seoptimal mungkin, karena mepet biaya juga sih sebenernya.

 

Adam: Zaman sekarang era digitial kan, produksi musik itu dilakukan secara digital, dan itu sangat membantu banget sih.

 

K: Terus dengan perkembangan teknologi, gimana kalian ngeliat NDX manggung, berdua sama satu operator laptop di panggung?

 

Adit: Keren lho NDX, aku familia, ati-ati mas, hahaha

 

K: Keren gimana nih maksudnya?

 

Adit: Menurutku, aku gak tau dia sengaja atau enggak, mungkin juga nothing to lose. Mereka memang menceritakan apa yang paling dekat sama keseharian mereka, permasalahan mereka adalah permasalahan yang paling dekat dengan remaja usia itu, kebetulan lingkungannya seperti itu, kebetulan mereka kan dulu kuli bangunan segala macem dan itu sangat menyentuh orang-orang disana.

 

K: Tanpa sugar coating, tanpa dikemas-kemas secara manis?

 

Adit: Nah itu lebih susah lagi, bikin musik yang dengan bahasa yang sederhana itu luar biasa lho. Maksudnya kita bisa merasakan suasananya gitu, kayak lagu anak-anak. NDX aku pikir dengan caranya bisa melakukan yang seperti itu. Menurutku musik yang keren itu yang bisa menembus dimensi banyak orang, NDX itu bisa. Mungkin ketika pertama mendengarkan, banyak yang bilang itu musik alay, tapi ketika didengarkan terus-terusan begitu kena suntikan goyangannya, pelan-pelan “oh iya juga ya kata NDX” misalnya, dengan satu dan lain cara. Ternyata permasalahan yang mereka bawa itu permasalahan yang sehari-hari di keseharian mereka dan bisa mewakili (suara hati) mereka dan banyak orang gitu.

 

K: Kalian mewakili siapa nih?

 

Adit: Siapa ya, hahaha, tapi keberpihakan itu penting sebetulnya. Kami susah juga ngomong soal keberpihakan kami, agak sensitif sebenernya kalo bilang berpihak pada kaum tertentu, karena pada dasarnya kami juga memperjuangkan diri sendiri sebenernya. Dengan kita ngomong bahwa ada kekerasan seperti itu, kami juga menghindari kekerasan itu terjadi pada diri kita dengan berkaca pada apa yang terjadi hari ini yang dialami temen-temen lain. Kami mungkin gak bisa mengadvokasi temen-temen di Kulon Progo 1×24 jam, cuman dengan satu dan lain cara, kami mau ngasi tau banyak orang bahwa bisa lho kejadian kayak gitu terjadi juga pada kita. Pada dasarnya kami juga memperjuangkan diri kami masing-masing, sebagai sesama manusia gitu.

 

K: Btw kalian milih teksnya yang bahasanya kayak gimana sih, liriknya dengan bahasa yang kayak gimana sih?

 

Adit: Gak ada tendensi untuk bikin lirik itu lebih rumit atau gimana. Aku gak tau juga sih. Rasa-rasanya lirik itu mudah dicerna untuk kami yang bikin teks, cuman ternyata kasusnya (di lapangan) ketika itu dilempar pada banyak orang, gak semua bisa nangkep itu secara langsung. Mungkin dampaknya kami sadar betul, itu seperti pertunjukan, bukan koran yang ngomong disana ada A, ya disana ada A. Ada penyangatan disitu, karena itu pertunjukan, ada berbagai lapisan untuk menceritakan soal keyataan itu. Seperti cerpen, tapi itulah cara kami menikmati kenyataan dalam satu dan lain cara. Kalo mau tau kejadian yang asli, ya datenglah ke jalan-jalan. Kami mungkin gak berusaha melakukan itu secara sengaja, tapi dalam prosesnya itu terjadi. Bisa jadi banyak hal, karena basic pertunjukan tadi.

 

K: Nah kalian kan menyuarakan tentang hal yang sebenernya tinggi tingkat urgensinya di masyarakat, dan aku pikir oh mungkin NDX itu ingin menyuarakan dirinya dan aku pikir mereka cukup peka dengan keadaan sekitarnya yang membuat orang lain juga peka dengan keadaannya dia gitu. Musik kan akhirnya menjadi salah satu media yang cukup mudah untuk masuk ke pikiran-pikiran orang. Kenapa kalian tidak menciptakan lagu untuk membantu menyeimbangkan persepsi orang terhadap suatu hal, makanya tadi aku nanya kalian bikin lirik yang kayak gimana karena aku juga pengen tau, mungkin kalian itu pernah memikirkan ini akan untuk siapa dan akhirnya harus membuat lagu untuk siapa dan seperti apa gitu?

 

Adit: Pada proses kreatifnya, kalo aku nyimak semuanya (masing-masing personil) punya jalan pikiran yang sama. Ketika bikin teks, musiknya itu juga gak pengen yang gini. Kita sadar betul bikin musik yang bahasanya mudah dan umum itu lebih gampang diterima bagi banyak orang, tapi di satu sisi kami juga sadar bikin musik yang sederhana itu gak gampang. Nah di sisi lain ketika kita sudah bikin musik yang seperti Kota dan Ingatan, mungkin bayangan proses kreatif yang aku inginkan awalnya itu sesederhana The Beatles, genjrang-genjreng mungkin ya, tapi ketika nyampe di Adam, Adam punya pemikiran yang “ini gak bisa Dit, gak bisa gini doang”. Indra juga sama dan Adi juga, pun Aji (pemain drum) “ayo dong ini bisa kita kembangkan”. Akhirnya di lima kepala itu, ya namanya juga berkesenian ya, ada hasrat ingin mengeksplor kreatifitas, dan aku pikir, hal itu yang dalam praktiknya, gitarnya bisa jadi lebih terdengar “tidak umum” gitu. Sebenernya kami menyadari itu juga, kenapa gak bikin yang simpel aja gitu, ya tapi gak bisa kan, kita berlima, pengen senang-senang juga kan pada awalnya. Iya kita ingin terlibat lebih dalam pada masyarakat melalui musik, tapi bukan berarti kita gak mengembangkan kreatifitas dan segala macamnya. Gak mungkin aku juga memaksakan Adam, udah Dam yang sederhana aja, kan gak mungkin ya dalam band, di situ menariknya, ada proses dialog dengan temen-temen, jadi proses dialognya setiap orang punya pemikirannya dan itu mungkin yang bikin jadi gak sesederhana yang di pikirkan di awal, termasuk teksnya juga jadinya seperti itu.

 

K: Mungkin ini pertanyaan yang beberapa kali Kharsa tanyakan pada orang-orang yang melakukan kegiatan berkeseninan, pertanyaannya adalah bagaimana kalo menurut Kota dan Ingatan untuk mengolah, atau mempertajam kepekaan, ke-roso-an itu?

Indra: kalo itu bener-bener subjektif sih, masing-masing individu dalam mengungkap apapun itu. Ketika sesuatu muncul itu udah bisa disebut fenomena, dan disitu ada subjek, subjek itu juga sudah beda dengan latar belakang dan itu juga berlapis-lapis. Ketika fenomena itu muncul, kita tangkap, kemudian ada feedback dari fenomena yang kita tangkap, entah itu berupa karya dan sebagainya, itu pun ada lapisan yang berlapis juga. Jadi aku rasa untuk mengasah kepekaan, emang ini masalah seberapa sering kita menangkap fenomena itu dan kita refleksikan kembali, kemudian kita olah kembali fenomena itu jadi sesuatu. Semakin sering maka akan semakin sinkron. Maksudnya dijadikan kebiasaan.

 

Adam: Bener sih kata Indra, sering-seringlah menangkap dan menuangkan fenomena itu dalam karya.

 

Adit: Iya sih, jangan ngomongin yang jauh-jauh, ngomongin yang deket aja, sulit lho untuk ngomongin soal tata rasi bintang karena emang gak kompeten disana, jadi ngomongin yang deket-deket aja, itu mungkin membantu kita untuk selain bikin musik juga mengasah empati dengan sekitar. Itu kerasa banget. Memang pertanyaan yang sulit sih, semua orang akan pasti mengalami fase-fase itu.

 

Pre Order Edisi Spesial [Closed]

Jelang perilisan album penuh pertama Kota & Ingatan ‘Kurun’ pada 16 November 2018, kami membuka Pre Order Edisi Spesial.

Open Pre Order (22 Oktober-5 November)

[EDISI SPESIAL] KURUN diproduksi dalam jumlah terbatas, harga Rp. 165.000 (belum termasuk ongkir) berisi:

– Suvenir Kaus Kota & Ingatan edisi KURUN
– CD Album KURUN
– Booklet 16 halaman
– Sticker
– Pouch

WhatsApp ke nomor berikut +62853-2672-5931

dengan format pemesanan:

01. Nama lengkap :
02. Alamat lengkap penerima:
03. Jumlah pembelian:
04. Warna dan ukuran kaus:

Desain Mock Up oleh Bambang Nurdiansyah

semua2 editCDKAOS2 SablonPEMESANAN