Kurun: Musik dan Politik Otentik

Kurun, di mata Aris Setyawan. Terlepas dari itu semua, tulisan ini merupakan pengantar yang baik, memapah keterjagaan kita jelang 2019 yang serba kebakaran.

Untuk membaca versi aslinya yang dimuat Serunai.co, silahkan klik judul berikut.

Kurun: Musik dan Politik Otentik

Oleh: Aris Setyawan

Processed with VSCO with m5 preset

Pengantar: tentang politik

Politik. Kata yang belakangan terdengar bengis, kotor, jahat dan menjijikkan. Kenapa bisa demikian? Karena di era kontemporer, politik dimaknai sebatas sebagai sebuah perkara kekuasaan: ada yang menguasai, ada yang dikuasai. Praktik politik ini makin terdengar menjijikkan karena maknanya yang makin tereduksi menjadi sebatas semacam tonil yang diulang tahun demi tahun: warga negara hanya punya kuasa untuk memilih tiap beberapa tahun sekali, berbaris dengan rapi ke bilik pencoblosan suara. Setelahnya mereka dikuasai oleh yang terpilih, sekadar menjadi penonton yang mengamati polah-tingkah para politikus yang terpilih.

Negara sendiri menjadi sebuah entitas politik yang diperbolehkan menekan dan merepresi warganya dengan berbagai cara seperti peraturan perundang-undangan dan aturan birokrasi lainnya, dalam rangka menegakkan dominasi negara atas ruang publik.

Relevansi politik yang kotor ini di Indonesia sudah terbaca jelas sejak nasion ini berdiri. Namun, yang paling kasat mata dan dapat dijadikan contoh adalah bagaimana politik menjadi panglima di era Orde Baru. Bahwa kekuasaan mampu bercokol kurang lebih 30 tahun hanya berarti satu hal: sang despot penguasa (baca: Soeharto) sungguh sakti mandraguna dan mampu mencengkeram kuat takhta kekuasaan, serta menepis setiap upaya pencerabutan kuasa dari tangannya. Rezim ini dengan segala cara juga melakukan aksi cuci otak massal sehingga warga negara terdiam dalam mimpi utopis hidup nan gemah ripah loh jinawi.

Ironisnya, setelah Soeharto lengser keprabon dan dinasti Orde Baru runtuh, keadaan politik Indonesia tak juga membaik. Reformasi yang digadang-gadang mampu mengubah keadaan rupanya tak berkutik menghadapi orbais-orbais yang masih bercokol di tampuk kekuasaan. Ngerinya lagi, mereka bercokol sampai sekarang, penghujung tahun 2018.

Jelang pemilihan presiden 2019, praktik politik terdengar makin menjijikkan. Dua kubu capres dan para pendukungnya saling beradu, mencoba meraih simpati konstituen. Dan cara-cara yang digunakan untuk meraih simpati ini tidak selamanya suci hama. Segala tipu daya, hoax, adu argumen tanpa substansi, dan praktik kotor lainnya hadir mewarnai panggung politik Indonesia.

Meminjam lirik lagu Iwan Fals, “dunia politik, dunia pesta pora para binatang”, lalu muncul sebuah pertanyaan: apakah tidak ada politik yang bersih dan tidak menjijikkan?

Seharusnya ada. Filsuf Hannah Arendt memaparkan sebuah gagasan mengenai politik otentik. Melacak sejarah namanya yang muncul dari masa lampau Yunani, secara harfiah politik berasal dari kata polis yang berarti negara atau kotaPolis adalah tempat di mana manusia berkumpul untuk urusan publik. Maka, politik seharusnya adalah perkara publik yang harus dipisahkan dari perkara privat. Sejak kemunculannya politik tidak berbicara tentang aneksasi dan kooptasi (kekuasaan). Alih-alih, dalam kacamata Arendt, politik adalah upaya pengaturan ruang publik oleh manusia yang telah tuntas dalam ranah privat baik dalam segi ekonomi dan pemenuhan privat lainnya seperti pengaturan keluarga.

Arendt menekankan pemisahan yang publik dan yang privat ini adalah sesuatu yang mutlak dalam politik. Apabila keduanya bercampur, politik akan menjadi ajang unjuk kekuasaan demi kepentingan segelintir orang dan menyuburkan oligarki, persis seperti digambarkan di awal tulisan ini.

Contoh dari bahayanya percampuran yang privat dan yang publik ini dapat dilihat dari bagaimana Orde Baru mengatur warga negaranya dengan berbagai aturan: wilayah privat seperti reproduksi diatur dengan aturan Keluarga Berencana dan BKKBN, perkara ideologi (seperti komunisme) diharamkan dan dimusnahkan secara literal di mana ratusan ribu hingga jutaan orang dibunuh pada 1965, privatisasi berbagai sektor ekonomi oleh korporasi asing, Soeharto dan kroninya juga memanfaatkan kekuasaan untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.

Contoh lain, di masa sekarang, perda syariah yang belakangan ramai dibicarakan adalah upaya kuasa mengatur ihwal pribadi warga negara. Atau bagaimana aneksasi demi aneksasi terjadi atas nama kepentingan publik: perampasan lahan di Temon, Kulon Progo untuk pembangunan bandara, Tumpang Pitu, Karst Kendeng, reklamasi Teluk Benoa, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Jangan lupakan juga bagaimana kuasa berselingkuh dengan korporasi dan merebut hajat hidup orang banyak.

Kurun: musik dan politik otentik

Sila berkenalan dengan Kota & Ingatan, band rock asal Yogyakarta yang baru saja merilis album penuh mereka bertajuk Kurun (2018). Sejak kelahirannya pada 2016 silam, band ini sudah secara tegas menunjukkan sikap politik mereka: membela kaum yang tertindas oleh kuasa. Ini ditunjukkan dengan hadirnya mereka di panggung-panggung pertunjukan yang bersolidaritas dan menyuarakan hak hidup warga negara di akar rumput.

Misalnya, mereka tampil di panggung ulang tahun Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP), secara tidak langsung ini adalah cara mereka berkontribusi, menolak pertambangan pasir besi yang merebut lahan hidup warga Kulon Progo. Pada penampilan mereka di panggung Art Jog 2016 silam, mereka dengan gagah berani menolak hadirnya Freeport sebagai sponsor perhelatan seni rupa tersebut. Freeport dituding sebagai perusahaan pertambangan yang mengeksploitasi hajat hidup warga asli Papua, serta merusak lingkungan.

Sikap politik tersebut juga dihadirkan dalam musik yang mereka bawakan. Sejak awal, Kota & Ingatan memaknai musik mereka sebagai naskah teater. Musik mereka adalah catatan, yang berfungsi mencatat kejadian-kejadian lalu melaporkannya dalam wujud musikal (aransemen musik) dan teks (lirik lagu).

Yang menarik adalah, mereka tanpa tedeng aling-aling menuding dan menyebut langsung ketidakadilan atau pihak pelakunya dalam pertunjukan atau postingan mereka di blog dan instagram. Namun, tidak demikian dengan musik. Mereka tidak menghadirkan musik yang to the point tunjuk sana-sini. Mereka menghadirkan musik dan lirik yang subtil. Jika diibaratkan, musik mereka bak naskah teater: ada dramatisasi, makna tidak secara jelas hadir, makna itu terselip secara lembut.

Kurun, album perdana Kota & Ingatan masih menggunakan formula yang sama. Sepuluh lagu dalam album berdurasi 46 menit 39 detik ini mereka perlakukan sebagai naskah teater dan catatan. Musik mereka ibarat bawang merah, berlapis-lapis, semakin dikupas semakin muncul pedih yang barangkali bisa membikin beberapa orang menangis. Karena di dalam musik mereka, tersirat kegetiran-kegetiran hidup manusia-manusia malang yang menjadi korban politik kotor.

Jika dikaitkan dengan pengantar tulisan ini, Kurun, sebagaimana artinya sebagai peredaran masa, menjadi istimewa karena di album yang kental nuansa guitar driven ini termaktub upaya menyibak tabir yang menutupi politik kotor yang selama ini terjadi di Indonesia, serta berusaha menawarkan utopia tentang politik yang otentik.

Kurun dibuka dengan “Alur”, lagu yang menjadi single pertama yang mereka rilis pascaterbentuk di masa silam. “Alur” menggambarkan tentang bagaimana kekerasan horizontal terjadi di sebuah kota (penggrebekan berbagai diskusi dan acara yang dituding kekiri-kirian, persekusi berbasis agama, kerusuhan sektarian, perepresian hak hidup LGBT). Bahwa kekerasan tersebut tidak melulu horizontal, melainkan juga vertikal karena bagaimana pun Negara dan aparatusnya memiliki andil dalam terjadinya kekerasan ini, misalnya dengan mendiamkan terjadinya kekerasan tersebut, atau malah memerintahkannya. Dalam bait “terkurung pada kota yang tergenang ketakutan dan lupa yang selalu kita amini (telah kita sesali)”, Kota & Ingatan menyoroti bagaimana warga negara yang tinggal di kota tersebut tak dapat melakukan apapun, mereka harus menerima dengan legawa dan bertahan di kota tersebut karena di situ lah tempat tinggal mereka.

Dalam “Etalase”, Kota & Ingatan menggambarkan bagaimana sejarah selalu mengulang dirinya sendiri, dan yang terus terulang itu adalah sesuatu yang sama: yang lemah selalu kalah dan bingung karena kebohongan yang diulang-ulang. (“dalam kebingungan yang sama, kekalahan yang sama, kebohongan yang sama.”). Orde Baru dan Departemen Penerangan serta bualan “menurut bapak presiden” a la Harmoko, hoax yang bertebaran di media sosial, hingga strategi politik firehose of falsehood yang digunakan salah satu kubu capres, semua adalah kebohongan yang diulang-ulang agar yang lemah bingung dan kalah.

“Elak” mengajak kita mengingat kembali luka-luka lama yang timbul karena kekuasaan (“hingga kemarau kian melemah kau masih terjaga, mengurai lukamu yang semakin dalam). Luka-luka ini digambarkan dalam “Peluru” sebagai “pada segala yang dihilangkan.” Kita tentu tak akan pernah lupa berapa banyak Hak Asasi Manusia dilanggar, dan berapa banyak nyawa dihilangkan demi mempertahankan kekuasaan: Mei 1998, Trisakti, Semanggi 1-2, Talangsari, Tanjung Priuk, tragedi 1965, dan kasus-kasus HAM lainnya. Lebih lanjut “Peluru” menjabarkan bahwa “darah kami yang dulu tertanam, telah tumbuh menjelma peluru yang mencari setiap persembunyian. Peluru-peluru itu akan terus mencarimu.” Bahwa mulut bisa dibungkam, nyawa bisa dihilangkan, tapi ide akan tumbuh dan menjadi peluru yang memburu para pelaku penghilangan nyawa tersebut. “Derit” melanjutkan naskah tersebut “Kau yang selalu dan begitu sembunyi dari yang selalu menghujam dan selalu memburumu.” Mereka harus selalu sembunyi dari peluru yang memburu keadilan.

Kesimpulan: sebuah refleksi

Sebagai sebuah album perdana, Kurun berhasil menunjukkan integritas Kota & Ingatan sebagai band yang menjanjikan: aransemen musik bak distopia, pemilihan diksi lirik yang sangat baik, serta sikap politik mereka yang tentu bukannya tanpa resiko. Barangkali, sikap politik dan musik mereka yang politis sejak dalam pikiran akan membuat jengah media-media sehingga enggan memuat kabar tentang mereka, atau bikin gamang penyelenggara acara untuk mengundang mereka karena takut Kota & Ingatan bikin ulah di perhelatan tersebut.

Kurun, lahir dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya, Kurun dengan musik dan liriknya yang subtil akan membuat pendengar tak hanya mendengar (pasif), namun para pendengar akan mendengarkan (aktif) album ini demi mengurai dan mencerna pesan dan makna apa yang terkandung di dalamnya. Kurun mengajak pendengarnya belajar mendengarkan musik secara aktif dan berpikir lebih dalam, tak hanya menganggap musik sebagai hiburan yang menyejukkan dahi pun tidak.

Kekurangannya, Kurun secara tidak langsung membentuk segmentasi untuk pendengar Kota & Ingatan. Barangkali, di zaman di mana layanan musik daring seperti Spotify hadir dengan jutaan pilihan musik, Kurun yang juga terkatalog di Spotify akan tenggelam. Beberapa orang akan menganggap musik dan lirik Kurun tidak enak didengar dan terlalu rumit dipahami. Lagi pula, problematika hidup sudah sedemikian banyak. Untuk apa ditambah rumit lagi dengan mendengarkan album musik yang bicara tentang politik kotor dan tawaran melakukan politik otentik?

Kembali ke gagasan politik otentik Hannah Arendt, kemutlakan pemisahan antara yang privat dan yang publik dalam politik sangat diperlukan dalam rangka menumbuhkan kehidupan yang pluralistik. Ketika setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan politik, persoalan bersama bisa dipecahkan dengan adu ide dan argumentasi antarwarga negara dan Negara. Hannah Arendt berusaha membuka jalan agar politik bermanfaat untuk keutamaan publik.

Melalui Kurun, Kota & Ingatan menguak bopeng-bopeng politik kotor, serta mengajak kita berpolitik dengan mengedepankan kepentingan publik.

Pertanyaannya, bagi mereka yang sudah berhasil menangkap maksud dan tujuan Kota & Ingatan di Kurun, maukah mengajak dan membimbing mereka yang belum berhasil menangkap gagasan tersebut untuk turut serta berpartisipasi?

Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, maukah kita berpolitik otentik bersama demi kemaslahatan seluruh warga negara? Atau kita tetap diam saja dan cukup menjadi partisipan di pemilu tiap lima tahun, lalu pasrah menjadi korban para pemangku kekuasaan yang terpilih?

Peluru & Serunai

Salah satu dari beberapa persilangan kabar dengan  serunai.co; yang menuliskan kembali pengantar  catatan kedua ini (dengan lebih baik).

Kota & Ingatan Rilis Nomor Peluru

oleh: Redaksi Serunai

Kuintet asal Yogyakarta, Kota & Ingatan, pada 20 Januari 2017 merilis single baru bertajuk Peluru. Nomor ini adalah rilisan kedua dari band alternative-rock asal Yogyakarta tersebut yang digawangi oleh Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum).

Catatan ini masih bersaling-silang dengan lima catatan yang mereka kerjakan sepanjang 2016 lalu. Tiga di antaranya berjudul: Peluru, Alur yang dirilis Juni lalu, dan Etalase yang belum dirilis. Ketiga nomor tersebut merupakan bagian dari skema yang Kota & Ingatan sebut sebagai “Trilogi Catatan”. Sebuah penulisan naskah tiga babak yang berpijak pada catatan mengenai Permanent Performance of Violence atau yang dalam bahasa Indonesia bisa dipadankan dengan Kekerasan Permanen yang Diperformakan.

Direkam berbarengan dengan Etalase pada bulan Desember 2016, Peluru yang pengerjaannya dimulai dari akhir 2015 sempat melewati beragam re-interpretasi, baik secara teks dan maupun secara aransemen musik.

Sebelumnya, catatan bertajuk Alur telah dirilis pada pertengahan tahun 2016, dan dapat didengar di laman soundcloud mereka. Jika Alur berisi naskah tentang kekerasan horizontal yang kerap terjadi di masyarakat, maka Peluru menjabarkan adanya relasi-kuasa yang memicu kekerasan horizontal tersebut. Yakni, adanya peran kuat pemerintah-militer menekan masyarakat dengan berbagai pembelokan sejarah dan kebohongan. Peran ini yang kemudian menumbuhkan kekerasan horizontal.

Catatan ini tumbuh dari setiap usaha pelurusan sejarah yang menahun diburamkan dalam tragedi 1965; dari Aksi Kamisan yang enggan kenal padam menagih janji rezim atas pengusutan pelanggaran HAM; dari masyarakat Papua yang puluhan tahun memperjuangkan tanah dan kemerdekaannya; dari setiap petani dan masyarakat yang memperjuangkan lahan hidupnya di seluruh sebaran titik api konflik agraria.

Melalui sebaris lirik yang tegas, “peluru-peluru itu akan terus mencarimu”, Kota & Ingatan menggambarkan sejarah yang dilenyapkan dan masyarakat yang dirampas hak hidupnya sebagai peluru: selongsong fakta, saksi dan keluarga yang mencari celah sepanjang tahun. Yang senantiasa menuntut pertanggung-jawaban rezim.

Peluru dapat diunduh dan didengar di sini.

Teater Kecil Kota & Ingatan

Dalam catatan serunai.co, mas Aris Setyawan menulis hasil obrolan bersama kota & ingatan beberapa waktu lalu. Tautannya bisa dibaca disini. Berikut kami tempelkan:

Teater Kecil Kota & Ingatan

Oleh Aris Setyawan

Kelompok musik asal Yogyakarta Kota & Ingatan baru merilis lagu bertajuk “Alur” awal Juni lalu, tepatnya pada Jumat (10/6). Lagu berdurasi tiga menit ini dapat diunduh dan didengarkan secara bebas di situs layanan musik daring soundcloud.

Kota & Ingatan terdiri dari manusia dengan nama: Aditya Prasanda (pelafal teks), Addi Setyawan (bass), Indradi Yogatama (gitar), Maliq Adam (gitar), dan Alfin Satriani (drum). Manusia yang bermusik di Kota & Ingatan mafhum bahwa mereka lahir di dunia modern yang terkadang menganggap manusia sekadar sebuah deretan angka dan statistik. Kota & Ingatan mengamini bahwa anekdot klasik apalah arti sebuah nama menjadi sangat relevan di masa sekarang.

Kuintet yang lahir di Yogyakarta yang kian menjelma urban ini sadar benar bahwa mereka adalah bagian kecil dari keterasingan manusia modern. Refleksi itu terungkap dalam blog mereka : “Masih bagian dari nomor-nomor yang tak penting dalam indeks yang telah sesak-tersimpan di deret kantor catatan sipil yang nomor-nomornya tak pernah diciptakan untuk menyusun kode urutan. Nomor-nomor yang tak pernah membangun tatanan, demikian keluarga kecil ini: nomor yang tak penting pada tatanan macam apa pun.”

Maka bagi Kota & Ingatan, proses bermain musik adalah semacam upaya mendokumentasikan. Kota & Ingatan merekam apa yang terjadi di jalan-jalan, di tengah keramaian, di hiruk pikuk kota yang sesak dengan gedung tinggi dan rencana-rencana yang beterbangan. Kejadian-kejadian yang begitu pesta untuk ditulis, begitu banyak, begitu riuh. Hasil amatan tersebut kemudian dicatat dalam musik. Bermusik adalah mencatat. Mencatat guna mengingat.

Musik rekaan mereka bukan sekadar jalinan nada dan irama. Musik mereka adalah catatan, semacam jurnal dari apa yang terjadi di dunia sekitar.

“Sejauh ini Kota & Ingatan lebih kayak memainkan naskah, dan musik kami adalah teater. Semangat kerja di Kota & Ingatan itu seperti teater,” kata pelafal teks Aditya Prasanda.

Jika diperhatikan secara seksama dari aransemen musik dan jalinan syair dalam lagu Alur, tepat kiranya jika Aditya menyebut Kota & Ingatan bak sebuah teater. Dibalut dengan aransemen musik bernuansa distopia, padu padan raungan dua gitar listrik, dentuman bass, dan hentakan drum, lirik lagu ini bercerita tentang kekerasan yang belakangan marak terjadi di Indonesia.

Kota & Ingatan memperlakukan lirik dalam musiknya sebagai naskah dalam teater, maka mereka tidak menceritakan dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling ihwal kekerasan tersebut. Artinya mereka tidak menyebut nama, peristiwa, dan tempat kejadian.

Meskipun sebenarnya menurut Aditya, Alur menceritakan kejadian yang baru saja terjadi di Yogyakarta. “Kami mencatat kejadian-kejadian yang dialami teman-teman di Survive Garage dan IAM, itu membantu kami memahami kembali seperti apa sih pandangan awal kami tentang kekerasan,” jelasnya.

Kejadian gropyokan di Survive Garage terjadi bulan awal April silam. Aparat kepolisian beserta sejumlah massa yang mengatasnamakan dirinya ormas agama tertentu membubarkan paksa acara Lady Fast 2016 di ruang komunitas seni Survive Garage. Kegiatan kesenian yang diselenggarakan di sebuah rumah di kawasan Bugisan, Bantul, itu dibubarkan dengan tudingan mengganggu kenyamanan masyarakat dan tidak memiliki izin.

Selang satu bulan pasca pembubaran paksa di Survive Garage, pada akhir Mei, sebuah pameran seni rupa bertajuk “Idola Remaja Nyeni” yang diselenggarakan di Independent Art Management (IAM) juga dipaksa bubar oleh sekelompok ormas. Massa ormas menuding pameran ini bagian dari kampanye LGBT. Meski ternyata pihak ormas tidak mampu membuktikan tuduhannya, mereka tetap menyasar beberapa karya lukis di pameran yang menurut mereka mengandung unsur pornografi. Pihak kepolisian kemudian mengangkut beberapa karya ke kantor polisi.

Alih-alih menghadirkan secara utuh realita tentang kejadian gropyokan dua ruang kesenian alternatif Survive Garage dan IAM oleh sekelompok ormas dalam lirik Alur, Kota & Ingatan memilih untuk menjadikannya sebuah naskah yang subtil.

Sebaris bait “terkurung pada kota yang tergenang ketakutan dan lupa yang selalu kita amini” terdengar subtil, namun sesungguhnya secara bernas menjabarkan bagaimana kekerasan bekerja. Ia meneror manusia dalam sebuah ruang, mengurungnya, sehingga manusia tersebut tak bisa keluar.

Sekasar apapun gropyokan yang kerap terjadi di ruang-ruang alternatif Yogyakarta belakangan, mereka yang berkepentingan di ruang itu tak akan meninggalkan ruangnya, kotanya, karena hidup mereka ada di sana.

Akhirnya, ketakutan gropyokan itu harus diterima. Diamini. Setali tiga uang dengan apa yang terjadi di masa lampau, saat sebuah rezim berkuasa menyebar benih kekerasan agar terjadi ketakutan massal. Atau dalam istilah Kota & Ingatan:“semua seperti biasa; seperti hari kemarin…”

Dalam amatan Kota & Ingatan, rezim lalim boleh tumbang, namun kekerasan kian santer terdengar. “Kini tumbuh melalui ormas-ormas yang mengakuisisi ruang publik dengan dalih agama dan kepentingan warga. Kekerasan menjadi perangkat untuk membuat masyarakat takut dan patuh,” jelas Aditya.

Kota & Ingatan tak sekadar mengamati dan mencatatkan hasil amatannya ke dalam musik, mereka juga berani dengan lantang menunjukkan sikap menolak terhadap sesuatu yang menurut mereka tidak adil. Sikap ini dapat dilihat saat Kota & Ingatan dengan tanpa tedeng aling-aling menyatakan kekecewaan atas keterlibatan perusahaan tambang Freeport sebagai sponsor perhelatan seni ArtJog 2016.

Minggu malam (5/6) saat tampil di atas panggung kapal perhelatan seni rupa Mandiri ArtJog 2016, Kota & Ingatan dengan lantang menunjukkan sikap tidak setuju atas keterlibatan perusahaan tambang Freeport sebagai penyumbang dana.

Sebenarnya mereka tidak sendiri. Sepekan sebelumnya, kelompok musik Dendang Kampungan melakukan hal yang sama: tampil di panggung ArtJog 2016 dan melontarkan protes terkait keterlibatan Freeport sebagai sponsor.

Sebagai sebuah band yang baru tumbuh dan memulai proses meniti karir, protes keras di panggung ArtJog bisa dibilang aksi yang cukup berani. Terlihat bahwa Kota & Ingatan siap dengan segala konsekuensinya, bahwa mereka bermusik bukan untuk mendapatkan keuntungan nominal atau ketenaran. “Kita bermain tapi tidak mengambil apapun dari sana. Dan menunjukkan sikap dengan menyatakan penyesalan kenapa harus ada keterlibatan Freeport di ArtJog (2016),” jelas Adit mewakili rekan bermusiknya.

Lebih lanjut Adit mengungkapkan bahwa kesenian tidak bisa lepas dari sendi-sendi kemanusiaan. Menurutnya, Freeport adalah salah satu perusahaan yang dilaporkan telah melanggar hak-hak kemanusiaan dalam praktik bisnisnya. “Kami menyayangkan perhelatan seni (ArtJog) yang melibatkan Freeport sebagai salah satu penyokong dananya. Freeport jelas bertanggungjawab atas pemberangusan kehidupan rakyat Papua hingga ke akar-akarnya, hingga perusakan lingkungan hidup,” terangnya.

Penyair klasik Dante pernah mengatakan bahwa ceruk terdalam neraka akan dihuni oleh mereka yang diam saat terjadi krisis moral. Tak ada yang tahu pasti rupa ceruk neraka itu. Namun yang pasti, melalui karyanya Kota & Ingatan memilih untuk tidak diam dan menunjukkan sikap. Sekecil apapun sikap itu, seperti yang mereka lakukan di panggung ArtJog 2016. “Ini adalah hal kecil yang bisa kami lakukan dengan cinta yang besar,” pungkas Adit.

Dunia ini panggung Sandiwara. Itu adalah selarik syair yang begitu familiar bagi mereka yang tumbuh di era 90-an. Nukilan dari lagu Panggung Sandiwara yang dinyanyikan oleh almarhum Nike Ardilla.

Sandiwara, tonil, teater. Semuanya adalah padanan kata yang mengacu pada sebuah seni pertunjukan lakon atau cerita.

Sengkarut kisah dalam kehidupan bak sebuah panggung sandiwara. Plotnya sukar ditebak, berubah seiring waktu. Pun Kota & Ingatan menganalogikan diri mereka sebagai lakon yang memainkan naskah sandiwara dalam bentuk musik. Naskah itu adalah saripati kehidupan manusia dan dunianya.

Setelah memainkan naskah Alur dengan cerita getir dunia kita yang penuh dengan kekerasan, saat dirilis kelak, naskah-naskah lain dari teater kecil Kota & Ingatan tentu akan semakin mengobrak-abrik kenyamanan hidup pendengarnya tatkala menyadari: dunia ini tidak baik-baik saja.