Setiap Musim di Tanah Kami

Catatan ini merupakan hasil “kerja bersama” kota & ingatan dengan banyak teman yang turun ke jalan selama mengikuti aksi massa #reformasidikorupsi.

Seluruh teks dalam catatan ini dihimpun dan digubah dari poster aksi teman-teman demonstran #reformasidikorupsi.

Pun sebagian besar footage dalam catatan ini merupakan hasil tangkapan beberapa teman yang turun ke jalan selama aksi berlangsung.

Saat catatan ini diturunkan, Indonesia belum beranjak dari status “darurat demokrasi”. Kebebasan demokrasi kian terancam mengingat para aktor pelanggar HAM saling berbagi tempat di kursi pemerintahan.

Sementara YLBHI mencatat, selama periode Januari hingga Oktober 2019, terdapat 78 kasus pelanggaran kebebasan berpendapat di Indonesia, di mana 51 korban di antaranya meninggal dunia. Operasi pembebasan lahan yang berpihak pada kepentingan investor pun masih terus berjalan.

Di lain tempat, RUU belum sepenuhnya dibatalkan. Pada perpanjangan tangan kekuasaan baru, tidak menutup kemungkinan pasal-pasal tak masuk akal akan kembali merongrong keseharian.

——–

Setiap Musim di Tanah Kami

Teks dan Musik:

demonstran #reformasidikorupsi, kota & ingatan

Footage:

demonstran #reformasidikorupsi, WatchDoc, tangkapan masyarakat sipil, something you should know before you die

Penyusun dan penyelaras video:

Nerpati Palagan

Perekam, penata dan penyelaras musik:

kota & ingatan

Artwork:

Dawatul Khoiroh, kota & ingatan

Merapal Kurun: Mengukur Waktu, Mengeja yang Telah

Nyaris setahun pasca merilis debut album Kurun pada November 2018 lalu, Kota & Ingatan merilis kembali album penuh mereka dalam format studio session, Merapal Kurun.

Merapal-kan kembali catatan demi catatan dalam album Kurun, Kota & Ingatan memainkan 9 dari 10 catatan album ini secara live.

Alur didapuk sebagai catatan pembuka sesi Merapal Kurun yang dirilis via Youtube pada Rabu (28/08).

Direkam pekan akhir Juli, di Jogja Audio School (JAS), Kota & Ingatan menggubah set studio langganan banyak musisi Jogja ini menjadi sedikit berbeda.

”Tantangannya, gimana merubah studio JAS agar terlihat nggak biasa? Karena ada banyak banget musisi yang bikin studio session di JAS, dengan set yang nyaris sama,” ungkap Aditya Prasanda, pelafal teks kugiran yang berdiri pada medio awal 2016 tersebut.

Aditya menambahkan, ”Di situlah muncul gagasan menutup area-area paling familiar di JAS dan menembakkan proyektor di satu sisi studio. Meski di lapangan, ada beberapa spot khas JAS yang tak terhindarkan dan terekam.”

Selain Alur, terdapat 8 catatan lain yang akan diunggah Kota & Ingatan secara berkala melalui kanal Youtube mereka.

Menariknya, hanya Memoar, single pembuka album Kurun yang tidak disertakan dalam sesi live ini.

”Kami terkendala waktu, meski sudah direncanakan jauh hari, ekseskusinya tetap mepet dan terburu-buru. Jadi ngga sempat ngulik Memoar,” jelas Maliq Adam, gitaris sekaligus multi instrumentalis Kota & Ingatan.

Rekaman studio session, Merapal Kurun sekaligus menjadi ajang temu kangen, merayakan kepulangan sejenak pembetot bass mereka, Addie Setyawan yang bermukim dan melanjutkan hidup di Meksiko.

Tak hanya itu, Merapal Kurun juga menjadi sesi pertama Kota & Ingatan memainkan fullset debut album mereka secara live.

Sejak terbentuk tahun 2016, di antara kelindan aktivitas personelnya yang begitu cabar, Kota & Ingatan mengisi sejumlah panggung di Yogyakarta.

Setiap tahun, Kugiran yang beranggotakan Herda Mukti Setiyawan (gitar), Addie Setyawan (bass), Maliq Adam (gitar), Aji Prasetyo (drum) dan Aditya Prasanda (pelafal teks) ini rutin merilis single. Kurun merupakan debut album penuh mereka.

Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Produser:

Kota & Ingatan

Pengambil Gambar:

Asep Taufik Hidayat

Etno Mansur

Nerpati Palagan

Penyelaras Gambar:

Nerpati Palagan

Pengarah Proyektor:

Aleyo Sas Melas

Teknisi:

Miko Kim
Dzunnurain Achmad Azhar
Cahyo Kukuh B.K.

Perekam dan Penata Suara:

Aditya Kurniawan

Muhammad Kemal Akbar

Maliq Adam

Penyelaras Suara:

Maliq Adam

Narahubung:

Da’watul Khoiroh

Keluarga. 2019.

Pertengahan 2019, mas Addie Setyawan pulang. Tidak lama, hanya sebulan, sebelum kembali bergulat dengan kesehariannya di Meksiko.

Kami sempatkan mengambil foto keluarga yang teramat sangat jarang. Sementara hidup terus berjalan, keluarga kami juga bertambah. Bersama kami, mas Herda Mukti Setyawan di pojok kiri, teman tandem mas Maliq Adam di atas panggung selanjutnya.

Kota & Ingatan

Pendar: Sebab Nasib Tak Hanya Ditentukan Lima Tahun Sekali

Untuk merayakan bulan yang penuh warna, jalanan yang penuh slogan, hari-hari yang pepat dan penuh pupur, massa yang saling tikam demi ‘menentukan arah pembangunan’, yang ambil keputusan sebab tak punya pilihan, yang tak urun suara sebab sadar akan selalu terpinggirkan.

—-

[Pendar]

Teks:

tetaplah terjaga, seperti kejenuhan yang paling jenuh

dalam kerumunan yang paling riuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

tetaplah terjaga, seperti kejauhan yang paling jauh

dalam perburuan yang paling piyuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.

dan tetaplah terjaga, seperti kebohongan yang paling satir

dalam kemurungan yang paling kapir

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

dan tetaplah terjaga, seperti kekalahan yang paling amis

dalam kesombongan yang paling lamis

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Direkam di:

Studio Jogja Audio School, Emobi Studio dan T-Studio, Yogyakarta.

Perekam dan Penata Suara:

Maliq Adam, Aditya Kurniawan dan Putranto Aditomo

Penyelaras Akhir:

Putranto Aditomo

Director:

Aditya Prasanda

Videographer:

Dhani Phantom

Aktor: Muhamad Rizal Kurniadi dan Muhammad Ayodya Putra

Pengambilan gambar di Gilang Ramadhan Studio Yogyakarta (grsb_yogyakarta)