Pendar: Sebab Nasib Tak Hanya Ditentukan Lima Tahun Sekali

Untuk merayakan bulan yang penuh warna, jalanan yang penuh slogan, hari-hari yang pepat dan penuh pupur, massa yang saling tikam demi ‘menentukan arah pembangunan’, yang ambil keputusan sebab tak punya pilihan, yang tak urun suara sebab sadar akan selalu terpinggirkan.

Enam bulan pasca merilis bonus track berbentuk video footage ‘Memoar’ yang diambil dari debut album mereka, ‘Kurun’, Kota & Ingatan melempar nomor ‘Pendar’ dalam format video klip di Youtube.

Pendar, seperti halnya catatan lain dalam album mereka yang puspa warna, memancing rasa penasaran dengan bagan musik repetitif pada melodi gitar maupun tema utama vokal yang berulang-ulang, berkelindan dengan departemen teksnya yang begitu kuat.

Eksperimentasi Kota & Ingatan yang luas dan berani, juga terdengar pada segmen poliritmik, multi ketukan yang saling bersahut di sepanjang lagu, dipagari  ambiens yang disusun dari komposisi musiknya yang lamat, perlahan menginterpretasikan kesemrawutan hari ini di bagian outro.

Bait, ”Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama,” yang tegas dihadirkan sebagai topik utama pada awal video, memberikan bocoran pada pendengar berkenaan dengan apa catatan dan video ini dirancang.

Hanya beberapa hari setelah perilisan klip Pendar, pemilihan umum capres dan cawapres di Indonesia diadakan serempak. Ketegangan pendukung masing-masing kubu kian meninggi dari awal tahun 2019 hingga jelang pemilihan umum dilaksanakan.

Saling sikut dan tikam saat bertatap langsung maupun di media sosial tak terhindarkan dari kedua kubu. Politik identitas khas parade lima tahun sekali digaungkan, pupur kedua calon di kedepankan, dan masyarakat saling dibenturkan, di antara hiruk pikuk jargon siapa yang paling mulia, paling manis janjinya, paling sederhana, paling agamis, paling tegas, dan segala ‘paling’ yang memperkeruh keadaan sesungguhnya.

Tragis, hal-hal subtil dari parade ini kian bias, tatkala pembicaraan soal penegakan HAM yang tak kunjung usai, hingga kasus pembangunanisme tak masuk akal yang mengorbankan alam dan manusia, absen dari debat kusir di televisi, di manapun, di kehidupan sehari-hari.

Ketegangan tersebut diterjemahkan Kota & Ingatan melalui ‘Pendar’.

Pada bait, ”Seperti kejenuhan yang paling jenuh dalam kerumunan yang paling riuh, kita berdiri di pinggir jalan yang sama,” atau deretan teks macam, ”Kebohongan yang paling satir dalam kemurungan yang paling kapir,” lalu ”Kekalahan yang paling amis dalam kesombongan yang paling lamis,” lantas ditegaskan dengan bait repetitif ”Kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama. Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama,” berturut-turut mengajak pendengar menyimak potret hari ini dengan keterjagaan yang seharusnya.

Ya, pemilu akan selalu dilaksanakan lima tahun sekali, roda ‘politik berbagi kekuasaan’ pun terus berputar, janji penuntasan kasus HAM pun hanya sebatas jargon lima tahun sekali tatkala deretan jenderal yang paling bertanggung jawab pada rentetan tragedi paling kelam di Indonesia masih melanggeng di pemerintahan. Kota & Ingatan mewanti-wanti situasi ini dalam deretan teks, ”Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.”

Sementara penegakan HAM tak kunjung usai, percepatan pembangunan tak lagi masuk akal ketika tidak lagi berpihak pada alam dan manusia, tatkala reklamasi di Teluk Benoa, pembangunan bandara dan tambang pasir besi di Kulonprogo, hingga pembangunan pabrik semen di Rembang, serta berbagai konflik agraria di Indonesia tetap berjalan betapapun tidak memenuhi syarat uji kelayakan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan).

Melalui catatan Pendar, Kota & Ingatan menyelipkan alarm betapa nasib sesungguhnya tak hanya ditentukan lima tahun sekali, sebab perjuangan dan perwujudan janji harian jauh lebih penting ketimbang euforia tahunan tersebut. Maka, ”Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.”

Bekerja bersama videographer, Dhani Phantom, serta dua aktor, Muhamad Rizal Kurniadi dan Muhammad Ayodya Putra, catatan Pendar divisualkan melalui video hitam putih nan menerjemahkan deretan ketegangan tersebut; yang kian mengeras jelang dan sesudah pemilihan umum dilaksanakan.

—-

[Pendar]

Teks:

tetaplah terjaga, seperti kejenuhan yang paling jenuh

dalam kerumunan yang paling riuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

 

tetaplah terjaga, seperti kejauhan yang paling jauh

dalam perburuan yang paling piyuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

 

tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.

 

dan tetaplah terjaga, seperti kebohongan yang paling satir

dalam kemurungan yang paling kapir

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

 

dan tetaplah terjaga, seperti kekalahan yang paling amis

dalam kesombongan yang paling lamis

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

 

Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Direkam di:

Studio Jogja Audio School, Emobi Studio dan T-Studio, Yogyakarta.

Perekam dan Penata Suara: 

Maliq Adam, Aditya Kurniawan dan Putranto Aditomo

Penyelaras Akhir:

Putranto Aditomo

Director:

Aditya Prasanda

Videographer:

Dhani Phantom

Aktor: Muhamad Rizal Kurniadi dan Muhammad Ayodya Putra

Pengambilan gambar di Gilang Ramadhan Studio Yogyakarta (grsb_yogyakarta)

Advertisements

Laidback Journey Vol. 07

Arsip: Abiyyu Indar Haiban

Laidback Journey Vol. 07. Paruh awal bulan Maret 2019.

IMG_3654kota & ingatankota & ingatan cIMG_3540IMG_3505kota & ingatan aIMG_3623IMG_3640IMG_3494IMG_3498IMG_3606IMG_3589IMG_3576kota & ingatan sIMG_3551IMG_3665

Kurun: Musik dan Politik Otentik

Kurun, di mata Aris Setyawan. Terlepas dari itu semua, tulisan ini merupakan pengantar yang baik, memapah keterjagaan kita jelang 2019 yang serba kebakaran.

Untuk membaca versi aslinya yang dimuat Serunai.co, silahkan klik judul berikut.

Kurun: Musik dan Politik Otentik

Oleh: Aris Setyawan

Processed with VSCO with m5 preset

Pengantar: tentang politik

Politik. Kata yang belakangan terdengar bengis, kotor, jahat dan menjijikkan. Kenapa bisa demikian? Karena di era kontemporer, politik dimaknai sebatas sebagai sebuah perkara kekuasaan: ada yang menguasai, ada yang dikuasai. Praktik politik ini makin terdengar menjijikkan karena maknanya yang makin tereduksi menjadi sebatas semacam tonil yang diulang tahun demi tahun: warga negara hanya punya kuasa untuk memilih tiap beberapa tahun sekali, berbaris dengan rapi ke bilik pencoblosan suara. Setelahnya mereka dikuasai oleh yang terpilih, sekadar menjadi penonton yang mengamati polah-tingkah para politikus yang terpilih.

Negara sendiri menjadi sebuah entitas politik yang diperbolehkan menekan dan merepresi warganya dengan berbagai cara seperti peraturan perundang-undangan dan aturan birokrasi lainnya, dalam rangka menegakkan dominasi negara atas ruang publik.

Relevansi politik yang kotor ini di Indonesia sudah terbaca jelas sejak nasion ini berdiri. Namun, yang paling kasat mata dan dapat dijadikan contoh adalah bagaimana politik menjadi panglima di era Orde Baru. Bahwa kekuasaan mampu bercokol kurang lebih 30 tahun hanya berarti satu hal: sang despot penguasa (baca: Soeharto) sungguh sakti mandraguna dan mampu mencengkeram kuat takhta kekuasaan, serta menepis setiap upaya pencerabutan kuasa dari tangannya. Rezim ini dengan segala cara juga melakukan aksi cuci otak massal sehingga warga negara terdiam dalam mimpi utopis hidup nan gemah ripah loh jinawi.

Ironisnya, setelah Soeharto lengser keprabon dan dinasti Orde Baru runtuh, keadaan politik Indonesia tak juga membaik. Reformasi yang digadang-gadang mampu mengubah keadaan rupanya tak berkutik menghadapi orbais-orbais yang masih bercokol di tampuk kekuasaan. Ngerinya lagi, mereka bercokol sampai sekarang, penghujung tahun 2018.

Jelang pemilihan presiden 2019, praktik politik terdengar makin menjijikkan. Dua kubu capres dan para pendukungnya saling beradu, mencoba meraih simpati konstituen. Dan cara-cara yang digunakan untuk meraih simpati ini tidak selamanya suci hama. Segala tipu daya, hoax, adu argumen tanpa substansi, dan praktik kotor lainnya hadir mewarnai panggung politik Indonesia.

Meminjam lirik lagu Iwan Fals, “dunia politik, dunia pesta pora para binatang”, lalu muncul sebuah pertanyaan: apakah tidak ada politik yang bersih dan tidak menjijikkan?

Seharusnya ada. Filsuf Hannah Arendt memaparkan sebuah gagasan mengenai politik otentik. Melacak sejarah namanya yang muncul dari masa lampau Yunani, secara harfiah politik berasal dari kata polis yang berarti negara atau kotaPolis adalah tempat di mana manusia berkumpul untuk urusan publik. Maka, politik seharusnya adalah perkara publik yang harus dipisahkan dari perkara privat. Sejak kemunculannya politik tidak berbicara tentang aneksasi dan kooptasi (kekuasaan). Alih-alih, dalam kacamata Arendt, politik adalah upaya pengaturan ruang publik oleh manusia yang telah tuntas dalam ranah privat baik dalam segi ekonomi dan pemenuhan privat lainnya seperti pengaturan keluarga.

Arendt menekankan pemisahan yang publik dan yang privat ini adalah sesuatu yang mutlak dalam politik. Apabila keduanya bercampur, politik akan menjadi ajang unjuk kekuasaan demi kepentingan segelintir orang dan menyuburkan oligarki, persis seperti digambarkan di awal tulisan ini.

Contoh dari bahayanya percampuran yang privat dan yang publik ini dapat dilihat dari bagaimana Orde Baru mengatur warga negaranya dengan berbagai aturan: wilayah privat seperti reproduksi diatur dengan aturan Keluarga Berencana dan BKKBN, perkara ideologi (seperti komunisme) diharamkan dan dimusnahkan secara literal di mana ratusan ribu hingga jutaan orang dibunuh pada 1965, privatisasi berbagai sektor ekonomi oleh korporasi asing, Soeharto dan kroninya juga memanfaatkan kekuasaan untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.

Contoh lain, di masa sekarang, perda syariah yang belakangan ramai dibicarakan adalah upaya kuasa mengatur ihwal pribadi warga negara. Atau bagaimana aneksasi demi aneksasi terjadi atas nama kepentingan publik: perampasan lahan di Temon, Kulon Progo untuk pembangunan bandara, Tumpang Pitu, Karst Kendeng, reklamasi Teluk Benoa, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Jangan lupakan juga bagaimana kuasa berselingkuh dengan korporasi dan merebut hajat hidup orang banyak.

Kurun: musik dan politik otentik

Sila berkenalan dengan Kota & Ingatan, band rock asal Yogyakarta yang baru saja merilis album penuh mereka bertajuk Kurun (2018). Sejak kelahirannya pada 2016 silam, band ini sudah secara tegas menunjukkan sikap politik mereka: membela kaum yang tertindas oleh kuasa. Ini ditunjukkan dengan hadirnya mereka di panggung-panggung pertunjukan yang bersolidaritas dan menyuarakan hak hidup warga negara di akar rumput.

Misalnya, mereka tampil di panggung ulang tahun Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP), secara tidak langsung ini adalah cara mereka berkontribusi, menolak pertambangan pasir besi yang merebut lahan hidup warga Kulon Progo. Pada penampilan mereka di panggung Art Jog 2016 silam, mereka dengan gagah berani menolak hadirnya Freeport sebagai sponsor perhelatan seni rupa tersebut. Freeport dituding sebagai perusahaan pertambangan yang mengeksploitasi hajat hidup warga asli Papua, serta merusak lingkungan.

Sikap politik tersebut juga dihadirkan dalam musik yang mereka bawakan. Sejak awal, Kota & Ingatan memaknai musik mereka sebagai naskah teater. Musik mereka adalah catatan, yang berfungsi mencatat kejadian-kejadian lalu melaporkannya dalam wujud musikal (aransemen musik) dan teks (lirik lagu).

Yang menarik adalah, mereka tanpa tedeng aling-aling menuding dan menyebut langsung ketidakadilan atau pihak pelakunya dalam pertunjukan atau postingan mereka di blog dan instagram. Namun, tidak demikian dengan musik. Mereka tidak menghadirkan musik yang to the point tunjuk sana-sini. Mereka menghadirkan musik dan lirik yang subtil. Jika diibaratkan, musik mereka bak naskah teater: ada dramatisasi, makna tidak secara jelas hadir, makna itu terselip secara lembut.

Kurun, album perdana Kota & Ingatan masih menggunakan formula yang sama. Sepuluh lagu dalam album berdurasi 46 menit 39 detik ini mereka perlakukan sebagai naskah teater dan catatan. Musik mereka ibarat bawang merah, berlapis-lapis, semakin dikupas semakin muncul pedih yang barangkali bisa membikin beberapa orang menangis. Karena di dalam musik mereka, tersirat kegetiran-kegetiran hidup manusia-manusia malang yang menjadi korban politik kotor.

Jika dikaitkan dengan pengantar tulisan ini, Kurun, sebagaimana artinya sebagai peredaran masa, menjadi istimewa karena di album yang kental nuansa guitar driven ini termaktub upaya menyibak tabir yang menutupi politik kotor yang selama ini terjadi di Indonesia, serta berusaha menawarkan utopia tentang politik yang otentik.

Kurun dibuka dengan “Alur”, lagu yang menjadi single pertama yang mereka rilis pascaterbentuk di masa silam. “Alur” menggambarkan tentang bagaimana kekerasan horizontal terjadi di sebuah kota (penggrebekan berbagai diskusi dan acara yang dituding kekiri-kirian, persekusi berbasis agama, kerusuhan sektarian, perepresian hak hidup LGBT). Bahwa kekerasan tersebut tidak melulu horizontal, melainkan juga vertikal karena bagaimana pun Negara dan aparatusnya memiliki andil dalam terjadinya kekerasan ini, misalnya dengan mendiamkan terjadinya kekerasan tersebut, atau malah memerintahkannya. Dalam bait “terkurung pada kota yang tergenang ketakutan dan lupa yang selalu kita amini (telah kita sesali)”, Kota & Ingatan menyoroti bagaimana warga negara yang tinggal di kota tersebut tak dapat melakukan apapun, mereka harus menerima dengan legawa dan bertahan di kota tersebut karena di situ lah tempat tinggal mereka.

Dalam “Etalase”, Kota & Ingatan menggambarkan bagaimana sejarah selalu mengulang dirinya sendiri, dan yang terus terulang itu adalah sesuatu yang sama: yang lemah selalu kalah dan bingung karena kebohongan yang diulang-ulang. (“dalam kebingungan yang sama, kekalahan yang sama, kebohongan yang sama.”). Orde Baru dan Departemen Penerangan serta bualan “menurut bapak presiden” a la Harmoko, hoax yang bertebaran di media sosial, hingga strategi politik firehose of falsehood yang digunakan salah satu kubu capres, semua adalah kebohongan yang diulang-ulang agar yang lemah bingung dan kalah.

“Elak” mengajak kita mengingat kembali luka-luka lama yang timbul karena kekuasaan (“hingga kemarau kian melemah kau masih terjaga, mengurai lukamu yang semakin dalam). Luka-luka ini digambarkan dalam “Peluru” sebagai “pada segala yang dihilangkan.” Kita tentu tak akan pernah lupa berapa banyak Hak Asasi Manusia dilanggar, dan berapa banyak nyawa dihilangkan demi mempertahankan kekuasaan: Mei 1998, Trisakti, Semanggi 1-2, Talangsari, Tanjung Priuk, tragedi 1965, dan kasus-kasus HAM lainnya. Lebih lanjut “Peluru” menjabarkan bahwa “darah kami yang dulu tertanam, telah tumbuh menjelma peluru yang mencari setiap persembunyian. Peluru-peluru itu akan terus mencarimu.” Bahwa mulut bisa dibungkam, nyawa bisa dihilangkan, tapi ide akan tumbuh dan menjadi peluru yang memburu para pelaku penghilangan nyawa tersebut. “Derit” melanjutkan naskah tersebut “Kau yang selalu dan begitu sembunyi dari yang selalu menghujam dan selalu memburumu.” Mereka harus selalu sembunyi dari peluru yang memburu keadilan.

Kesimpulan: sebuah refleksi

Sebagai sebuah album perdana, Kurun berhasil menunjukkan integritas Kota & Ingatan sebagai band yang menjanjikan: aransemen musik bak distopia, pemilihan diksi lirik yang sangat baik, serta sikap politik mereka yang tentu bukannya tanpa resiko. Barangkali, sikap politik dan musik mereka yang politis sejak dalam pikiran akan membuat jengah media-media sehingga enggan memuat kabar tentang mereka, atau bikin gamang penyelenggara acara untuk mengundang mereka karena takut Kota & Ingatan bikin ulah di perhelatan tersebut.

Kurun, lahir dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya, Kurun dengan musik dan liriknya yang subtil akan membuat pendengar tak hanya mendengar (pasif), namun para pendengar akan mendengarkan (aktif) album ini demi mengurai dan mencerna pesan dan makna apa yang terkandung di dalamnya. Kurun mengajak pendengarnya belajar mendengarkan musik secara aktif dan berpikir lebih dalam, tak hanya menganggap musik sebagai hiburan yang menyejukkan dahi pun tidak.

Kekurangannya, Kurun secara tidak langsung membentuk segmentasi untuk pendengar Kota & Ingatan. Barangkali, di zaman di mana layanan musik daring seperti Spotify hadir dengan jutaan pilihan musik, Kurun yang juga terkatalog di Spotify akan tenggelam. Beberapa orang akan menganggap musik dan lirik Kurun tidak enak didengar dan terlalu rumit dipahami. Lagi pula, problematika hidup sudah sedemikian banyak. Untuk apa ditambah rumit lagi dengan mendengarkan album musik yang bicara tentang politik kotor dan tawaran melakukan politik otentik?

Kembali ke gagasan politik otentik Hannah Arendt, kemutlakan pemisahan antara yang privat dan yang publik dalam politik sangat diperlukan dalam rangka menumbuhkan kehidupan yang pluralistik. Ketika setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan politik, persoalan bersama bisa dipecahkan dengan adu ide dan argumentasi antarwarga negara dan Negara. Hannah Arendt berusaha membuka jalan agar politik bermanfaat untuk keutamaan publik.

Melalui Kurun, Kota & Ingatan menguak bopeng-bopeng politik kotor, serta mengajak kita berpolitik dengan mengedepankan kepentingan publik.

Pertanyaannya, bagi mereka yang sudah berhasil menangkap maksud dan tujuan Kota & Ingatan di Kurun, maukah mengajak dan membimbing mereka yang belum berhasil menangkap gagasan tersebut untuk turut serta berpartisipasi?

Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, maukah kita berpolitik otentik bersama demi kemaslahatan seluruh warga negara? Atau kita tetap diam saja dan cukup menjadi partisipan di pemilu tiap lima tahun, lalu pasrah menjadi korban para pemangku kekuasaan yang terpilih?

Kurun

[PRESS RELEASE ]

Kota & Ingatan Resmi Merilis Album Penuh Pertama ‘Kurun’

Processed with VSCO with m5 preset

Penantian panjang itu akhirnya bersambut. Kelompok musik asal Yogyakarta, Kota & Ingatan resmi merilis album penuh pertama mereka, Kurun.

Album ini dirilis melalui platform digital Youtube, Spotify, Itunes-Apple Music (dengarkan disini) dan dijajakan secara fisik dalam format CD di beberapa toko musik pada 16 November 2018.

Kurun, yang rentang pengerjaannya nyaris tiga tahun, merupakan kumpulan catatan yang merangkum peristiwa pula beragam tegangan yang terjadi di Yogyakarta selama 2016 hingga 2018.

Dalam praktiknya, rentang tersebut melebihi waktu dan ruang itu sendiri. Percakapannya pun menjadi lebih luas sebab kejadian-kejadian di dalamnya, terjadi menahun, relevan hingga hari ini, dan mengejan di banyak kota di Indonesia lainnya.

Kurun sebagai album kemudian menjelma refleksi dari apa yang terjadi di setiap sudut gang dan jalan besar; yang terjauh dan terengah; yang hiruk pikuk di tengah gempuran zaman; yang saling sikut dan tusuk dari belakang; yang ayat-ayat diperjual belikan di jalanan; yang kekerasan dibungkus dengan beragam nilai-nilai moral dan ideologi; yang saling tumpang tindih dan kebanjiran infomasi; yang seluruh dan menjadi cara kerja negara hari ini; yang terjadi di Yogyakarta dan kota-kota lainnya.

Menghadirkan 10 catatan di dalam Kurun, Kota & Ingatan mengolahnya dalam warna musik serta eksperimentasi yang begitu luas dan berani, berbekal lirik yang tajam; yang sesekali terdengar manis namun lebih sering menghujam.

Pada nomor berjudul Alur misalnya, Kota & Ingatan mencatat bagaimana kekerasan dihadirkan secara struktural di Indonesia, benturan antara masyarakat versus masyarakat dibangun, lalu militer mengintip dari kejauhan, siap hantam dengan senjata jika celah memungkinkan.

“Nilai-nilai kekerasan itu kemudian ditanam di media sosial, diadaptasi dan dibungkus dalam jargon agama, pancasila, ideologi kebangsaan, ‘merajut persatuan’ dan omong kosong lainnya. Omong kosong yang dibuat sedemikian manis agar masyarakat terlelap, mengamini kemudian lupa dan menyesali, pun begitu seterusnya,” ungkap Aditya Prasanda, pelafal teks Kota & Ingatan menceritakan kelindan isu yang diangkat melalui Alur.

Kemudian ada pula Etalase yang mencatat bagaimana orang-orang melumrahkan gerakan 212, bagaimana agama sedemikian candu hingga Tuhan dan surga diarak massa ke jalan-jalan sebagai syarat sah menyembelih manusia lainnya.

Setali tiga uang, Etalase juga menyoroti bagaimana banjir informasi membuat kita tak bisa membedakan mana yang benar dan salah, mana yang fakta dan bohong, mana yang penting dan tidak penting; yang kemudian melukai nalar dan cara berpikir banyak orang hari ini.

‘’Kedua catatan itu dipantik peristiwa gropyokan yang dilakukan sejumlah organisasi yang mengatasnamakan warga di ruang publik Yogyakarta pada 2016. Namun dalam perjalanannya, percakapannya jadi lebih luas, karena beririsan dengan banyak kasus lainnya yang terjadi di Indonesia’’ terang Aditya Prasanda.

“Catatan-catatan lain juga sama berkelindannya dengan isu yang begitu mencekik di Yogyakarta pada rentang 2016 hingga 2018, seperti Kanal yang mencatat pemukiman warga yang kesulitan air di sekitar lokasi pembangunan hotel yang begitu masif di Yogyakarta. Lalu Leram yang beririsan dengan penggusuran mengerikan: tambang pasir besi dan bandara internasional yang diinisiasi Kesultanan Yogyakarta di Kulonprogo,” tambahnya.

Melalui Kurun, kita juga dapat menyimak trauma sistem Orde Baru yang tak pernah bergeser dan kisah warga di kawasan konflik agraria yang selalu terpinggirkan, dalam lagu Pendar.

Sementara pada catatan berjudul Peluru dan Kurun, Kota & Ingatan menghadirkan beragam kasus penyelewengan HAM serta penghilangan paksa yang tak kunjung tuntas hingga hari ini.

Di luar isu-isu genting tersebut, Kota & Ingatan juga menyoroti isu lain yang kerap terlewatkan dari pembicaraan, menyoal tendensi bunuh diri yang begitu tinggi di kawasan perkotaan, dalam dua repertoar Elak dan Derit.

Sebagai nomor penutup, mereka menyelipkan satu lagu tambahan yang menyelinap di akhir kurasi album, Memoar. Sebuah nomor yang manis dan mengecoh. Menyoal hal yang klise bagi banyak orang, tentang harapan yang kandas, pada mimpi, pada angan-angan muda mudi urban hari ini yang begitu licin sekalipun tak begitu penting namun tak cukup bisa dikesampingkan. Lagu ekstra ini dirilis dalam format video klip pada 15 Oktober 2018 lalu.

Sejak terbentuk tahun 2016, kelompok musik Kota & Ingatan kerap mengisi sejumlah panggung di Yogyakarta. Beberapa kali nama mereka terdengar, namun lebih sering sayup terbawa angin. Mungkin pula disebabkan intensitas panggung mereka yang tidak sering dan saling berkejaran bersama segudang aktivitas masing-masing personilnya yang begitu cabar.

Kugiran yang beranggotakan Indradi Yogatama (gitar), Addie Setyawan (bass), Maliq Adam (gitar), Aji Prasetyo (drum) dan Aditya Prasanda (pelafal teks) ini telah merilis tiga catatan, yakni Alur pada 2016, Peluru setahun setelahnya, menyusul Memoar di paruh akhir 2018.

Kurun, merupakan debut album penuh pertama mereka.


Album: Kurun

Artist: Kota & Ingatan

Durasi total: 46:00 (empat puluh enam menit)

Tanggal Rilis: 16 November 2018

Tautan dengar: http://smarturl.it/albumkurun


Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Produser:

Kota & Ingatan

Direkam di:

Studio Jogja Audio School, Emobi Studio dan T-Studio, Yogyakarta.

Perekam dan Penata Suara: 

Maliq Adam, Aditya Kurniawan dan Putranto Aditomo

Penyelaras Akhir:

Putranto Aditomo


Narahubung: 0853-2672-5931

Instagram: @kotadaningatan

Surel: kotadaningatan@gmail.com

Blog: https://kotadaningatan.wordpress.com

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UC8OpQ6gGK7hweqHwLt1rqcw

Spotify: https://open.spotify.com/artist/2hFPwKplvODiHpCT80CEJJ

Itunes dan Apple Music: https://itunes.apple.com/id/artist/kota-ingatan/1226681312

Soundcloud: http://soundcloud.com/kotadaningatan

CD Kurun

Kurun

(Hardpack + Booklet)

Rp. 55.000

Selain dapat didengarkan melalui platform digital, Kurun juga tersedia dalam format CD. Silahkan pesan lewat nomor berikut (0853-2672-5931) atau hubungi toko musik rekanan kami di bawah ini:

Copy of Copy of dazzle (2)CD

dazzle (1)


[Update per 2019] Teman-teman juga bisa mendapatkan album Kurun di sejumlah toko musik rekanan kami dengan harga yang sama.

1