Kurun: Musik dan Politik Otentik

Kurun, di mata Aris Setyawan. Terlepas dari itu semua, tulisan ini merupakan pengantar yang baik, memapah keterjagaan kita jelang 2019 yang serba kebakaran.

Untuk membaca versi aslinya yang dimuat Serunai.co, silahkan klik judul berikut.

Kurun: Musik dan Politik Otentik

Oleh: Aris Setyawan

Processed with VSCO with m5 preset

Pengantar: tentang politik

Politik. Kata yang belakangan terdengar bengis, kotor, jahat dan menjijikkan. Kenapa bisa demikian? Karena di era kontemporer, politik dimaknai sebatas sebagai sebuah perkara kekuasaan: ada yang menguasai, ada yang dikuasai. Praktik politik ini makin terdengar menjijikkan karena maknanya yang makin tereduksi menjadi sebatas semacam tonil yang diulang tahun demi tahun: warga negara hanya punya kuasa untuk memilih tiap beberapa tahun sekali, berbaris dengan rapi ke bilik pencoblosan suara. Setelahnya mereka dikuasai oleh yang terpilih, sekadar menjadi penonton yang mengamati polah-tingkah para politikus yang terpilih.

Negara sendiri menjadi sebuah entitas politik yang diperbolehkan menekan dan merepresi warganya dengan berbagai cara seperti peraturan perundang-undangan dan aturan birokrasi lainnya, dalam rangka menegakkan dominasi negara atas ruang publik.

Relevansi politik yang kotor ini di Indonesia sudah terbaca jelas sejak nasion ini berdiri. Namun, yang paling kasat mata dan dapat dijadikan contoh adalah bagaimana politik menjadi panglima di era Orde Baru. Bahwa kekuasaan mampu bercokol kurang lebih 30 tahun hanya berarti satu hal: sang despot penguasa (baca: Soeharto) sungguh sakti mandraguna dan mampu mencengkeram kuat takhta kekuasaan, serta menepis setiap upaya pencerabutan kuasa dari tangannya. Rezim ini dengan segala cara juga melakukan aksi cuci otak massal sehingga warga negara terdiam dalam mimpi utopis hidup nan gemah ripah loh jinawi.

Ironisnya, setelah Soeharto lengser keprabon dan dinasti Orde Baru runtuh, keadaan politik Indonesia tak juga membaik. Reformasi yang digadang-gadang mampu mengubah keadaan rupanya tak berkutik menghadapi orbais-orbais yang masih bercokol di tampuk kekuasaan. Ngerinya lagi, mereka bercokol sampai sekarang, penghujung tahun 2018.

Jelang pemilihan presiden 2019, praktik politik terdengar makin menjijikkan. Dua kubu capres dan para pendukungnya saling beradu, mencoba meraih simpati konstituen. Dan cara-cara yang digunakan untuk meraih simpati ini tidak selamanya suci hama. Segala tipu daya, hoax, adu argumen tanpa substansi, dan praktik kotor lainnya hadir mewarnai panggung politik Indonesia.

Meminjam lirik lagu Iwan Fals, “dunia politik, dunia pesta pora para binatang”, lalu muncul sebuah pertanyaan: apakah tidak ada politik yang bersih dan tidak menjijikkan?

Seharusnya ada. Filsuf Hannah Arendt memaparkan sebuah gagasan mengenai politik otentik. Melacak sejarah namanya yang muncul dari masa lampau Yunani, secara harfiah politik berasal dari kata polis yang berarti negara atau kotaPolis adalah tempat di mana manusia berkumpul untuk urusan publik. Maka, politik seharusnya adalah perkara publik yang harus dipisahkan dari perkara privat. Sejak kemunculannya politik tidak berbicara tentang aneksasi dan kooptasi (kekuasaan). Alih-alih, dalam kacamata Arendt, politik adalah upaya pengaturan ruang publik oleh manusia yang telah tuntas dalam ranah privat baik dalam segi ekonomi dan pemenuhan privat lainnya seperti pengaturan keluarga.

Arendt menekankan pemisahan yang publik dan yang privat ini adalah sesuatu yang mutlak dalam politik. Apabila keduanya bercampur, politik akan menjadi ajang unjuk kekuasaan demi kepentingan segelintir orang dan menyuburkan oligarki, persis seperti digambarkan di awal tulisan ini.

Contoh dari bahayanya percampuran yang privat dan yang publik ini dapat dilihat dari bagaimana Orde Baru mengatur warga negaranya dengan berbagai aturan: wilayah privat seperti reproduksi diatur dengan aturan Keluarga Berencana dan BKKBN, perkara ideologi (seperti komunisme) diharamkan dan dimusnahkan secara literal di mana ratusan ribu hingga jutaan orang dibunuh pada 1965, privatisasi berbagai sektor ekonomi oleh korporasi asing, Soeharto dan kroninya juga memanfaatkan kekuasaan untuk mengumpulkan kekayaan pribadi.

Contoh lain, di masa sekarang, perda syariah yang belakangan ramai dibicarakan adalah upaya kuasa mengatur ihwal pribadi warga negara. Atau bagaimana aneksasi demi aneksasi terjadi atas nama kepentingan publik: perampasan lahan di Temon, Kulon Progo untuk pembangunan bandara, Tumpang Pitu, Karst Kendeng, reklamasi Teluk Benoa, dan masih banyak lagi kasus lainnya. Jangan lupakan juga bagaimana kuasa berselingkuh dengan korporasi dan merebut hajat hidup orang banyak.

Kurun: musik dan politik otentik

Sila berkenalan dengan Kota & Ingatan, band rock asal Yogyakarta yang baru saja merilis album penuh mereka bertajuk Kurun (2018). Sejak kelahirannya pada 2016 silam, band ini sudah secara tegas menunjukkan sikap politik mereka: membela kaum yang tertindas oleh kuasa. Ini ditunjukkan dengan hadirnya mereka di panggung-panggung pertunjukan yang bersolidaritas dan menyuarakan hak hidup warga negara di akar rumput.

Misalnya, mereka tampil di panggung ulang tahun Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP), secara tidak langsung ini adalah cara mereka berkontribusi, menolak pertambangan pasir besi yang merebut lahan hidup warga Kulon Progo. Pada penampilan mereka di panggung Art Jog 2016 silam, mereka dengan gagah berani menolak hadirnya Freeport sebagai sponsor perhelatan seni rupa tersebut. Freeport dituding sebagai perusahaan pertambangan yang mengeksploitasi hajat hidup warga asli Papua, serta merusak lingkungan.

Sikap politik tersebut juga dihadirkan dalam musik yang mereka bawakan. Sejak awal, Kota & Ingatan memaknai musik mereka sebagai naskah teater. Musik mereka adalah catatan, yang berfungsi mencatat kejadian-kejadian lalu melaporkannya dalam wujud musikal (aransemen musik) dan teks (lirik lagu).

Yang menarik adalah, mereka tanpa tedeng aling-aling menuding dan menyebut langsung ketidakadilan atau pihak pelakunya dalam pertunjukan atau postingan mereka di blog dan instagram. Namun, tidak demikian dengan musik. Mereka tidak menghadirkan musik yang to the point tunjuk sana-sini. Mereka menghadirkan musik dan lirik yang subtil. Jika diibaratkan, musik mereka bak naskah teater: ada dramatisasi, makna tidak secara jelas hadir, makna itu terselip secara lembut.

Kurun, album perdana Kota & Ingatan masih menggunakan formula yang sama. Sepuluh lagu dalam album berdurasi 46 menit 39 detik ini mereka perlakukan sebagai naskah teater dan catatan. Musik mereka ibarat bawang merah, berlapis-lapis, semakin dikupas semakin muncul pedih yang barangkali bisa membikin beberapa orang menangis. Karena di dalam musik mereka, tersirat kegetiran-kegetiran hidup manusia-manusia malang yang menjadi korban politik kotor.

Jika dikaitkan dengan pengantar tulisan ini, Kurun, sebagaimana artinya sebagai peredaran masa, menjadi istimewa karena di album yang kental nuansa guitar driven ini termaktub upaya menyibak tabir yang menutupi politik kotor yang selama ini terjadi di Indonesia, serta berusaha menawarkan utopia tentang politik yang otentik.

Kurun dibuka dengan “Alur”, lagu yang menjadi single pertama yang mereka rilis pascaterbentuk di masa silam. “Alur” menggambarkan tentang bagaimana kekerasan horizontal terjadi di sebuah kota (penggrebekan berbagai diskusi dan acara yang dituding kekiri-kirian, persekusi berbasis agama, kerusuhan sektarian, perepresian hak hidup LGBT). Bahwa kekerasan tersebut tidak melulu horizontal, melainkan juga vertikal karena bagaimana pun Negara dan aparatusnya memiliki andil dalam terjadinya kekerasan ini, misalnya dengan mendiamkan terjadinya kekerasan tersebut, atau malah memerintahkannya. Dalam bait “terkurung pada kota yang tergenang ketakutan dan lupa yang selalu kita amini (telah kita sesali)”, Kota & Ingatan menyoroti bagaimana warga negara yang tinggal di kota tersebut tak dapat melakukan apapun, mereka harus menerima dengan legawa dan bertahan di kota tersebut karena di situ lah tempat tinggal mereka.

Dalam “Etalase”, Kota & Ingatan menggambarkan bagaimana sejarah selalu mengulang dirinya sendiri, dan yang terus terulang itu adalah sesuatu yang sama: yang lemah selalu kalah dan bingung karena kebohongan yang diulang-ulang. (“dalam kebingungan yang sama, kekalahan yang sama, kebohongan yang sama.”). Orde Baru dan Departemen Penerangan serta bualan “menurut bapak presiden” a la Harmoko, hoax yang bertebaran di media sosial, hingga strategi politik firehose of falsehood yang digunakan salah satu kubu capres, semua adalah kebohongan yang diulang-ulang agar yang lemah bingung dan kalah.

“Elak” mengajak kita mengingat kembali luka-luka lama yang timbul karena kekuasaan (“hingga kemarau kian melemah kau masih terjaga, mengurai lukamu yang semakin dalam). Luka-luka ini digambarkan dalam “Peluru” sebagai “pada segala yang dihilangkan.” Kita tentu tak akan pernah lupa berapa banyak Hak Asasi Manusia dilanggar, dan berapa banyak nyawa dihilangkan demi mempertahankan kekuasaan: Mei 1998, Trisakti, Semanggi 1-2, Talangsari, Tanjung Priuk, tragedi 1965, dan kasus-kasus HAM lainnya. Lebih lanjut “Peluru” menjabarkan bahwa “darah kami yang dulu tertanam, telah tumbuh menjelma peluru yang mencari setiap persembunyian. Peluru-peluru itu akan terus mencarimu.” Bahwa mulut bisa dibungkam, nyawa bisa dihilangkan, tapi ide akan tumbuh dan menjadi peluru yang memburu para pelaku penghilangan nyawa tersebut. “Derit” melanjutkan naskah tersebut “Kau yang selalu dan begitu sembunyi dari yang selalu menghujam dan selalu memburumu.” Mereka harus selalu sembunyi dari peluru yang memburu keadilan.

Kesimpulan: sebuah refleksi

Sebagai sebuah album perdana, Kurun berhasil menunjukkan integritas Kota & Ingatan sebagai band yang menjanjikan: aransemen musik bak distopia, pemilihan diksi lirik yang sangat baik, serta sikap politik mereka yang tentu bukannya tanpa resiko. Barangkali, sikap politik dan musik mereka yang politis sejak dalam pikiran akan membuat jengah media-media sehingga enggan memuat kabar tentang mereka, atau bikin gamang penyelenggara acara untuk mengundang mereka karena takut Kota & Ingatan bikin ulah di perhelatan tersebut.

Kurun, lahir dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya, Kurun dengan musik dan liriknya yang subtil akan membuat pendengar tak hanya mendengar (pasif), namun para pendengar akan mendengarkan (aktif) album ini demi mengurai dan mencerna pesan dan makna apa yang terkandung di dalamnya. Kurun mengajak pendengarnya belajar mendengarkan musik secara aktif dan berpikir lebih dalam, tak hanya menganggap musik sebagai hiburan yang menyejukkan dahi pun tidak.

Kekurangannya, Kurun secara tidak langsung membentuk segmentasi untuk pendengar Kota & Ingatan. Barangkali, di zaman di mana layanan musik daring seperti Spotify hadir dengan jutaan pilihan musik, Kurun yang juga terkatalog di Spotify akan tenggelam. Beberapa orang akan menganggap musik dan lirik Kurun tidak enak didengar dan terlalu rumit dipahami. Lagi pula, problematika hidup sudah sedemikian banyak. Untuk apa ditambah rumit lagi dengan mendengarkan album musik yang bicara tentang politik kotor dan tawaran melakukan politik otentik?

Kembali ke gagasan politik otentik Hannah Arendt, kemutlakan pemisahan antara yang privat dan yang publik dalam politik sangat diperlukan dalam rangka menumbuhkan kehidupan yang pluralistik. Ketika setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan tindakan politik, persoalan bersama bisa dipecahkan dengan adu ide dan argumentasi antarwarga negara dan Negara. Hannah Arendt berusaha membuka jalan agar politik bermanfaat untuk keutamaan publik.

Melalui Kurun, Kota & Ingatan menguak bopeng-bopeng politik kotor, serta mengajak kita berpolitik dengan mengedepankan kepentingan publik.

Pertanyaannya, bagi mereka yang sudah berhasil menangkap maksud dan tujuan Kota & Ingatan di Kurun, maukah mengajak dan membimbing mereka yang belum berhasil menangkap gagasan tersebut untuk turut serta berpartisipasi?

Jika ditarik ke ranah yang lebih luas, maukah kita berpolitik otentik bersama demi kemaslahatan seluruh warga negara? Atau kita tetap diam saja dan cukup menjadi partisipan di pemilu tiap lima tahun, lalu pasrah menjadi korban para pemangku kekuasaan yang terpilih?

Advertisements

Kurun

[PRESS RELEASE ]

Kota & Ingatan Resmi Merilis Album Penuh Pertama ‘Kurun’

Processed with VSCO with m5 preset

Penantian panjang itu akhirnya bersambut. Kelompok musik asal Yogyakarta, Kota & Ingatan resmi merilis album penuh pertama mereka, Kurun.

Album ini dirilis melalui platform digital Youtube, Spotify, Itunes-Apple Music (dengarkan disini) dan dijajakan secara fisik dalam format CD di beberapa toko musik pada 16 November 2018.

Kurun, yang rentang pengerjaannya nyaris tiga tahun, merupakan kumpulan catatan yang merangkum peristiwa pula beragam tegangan yang terjadi di Yogyakarta selama 2016 hingga 2018.

Dalam praktiknya, rentang tersebut melebihi waktu dan ruang itu sendiri. Percakapannya pun menjadi lebih luas sebab kejadian-kejadian di dalamnya, terjadi menahun, relevan hingga hari ini, dan mengejan di banyak kota di Indonesia lainnya.

Kurun sebagai album kemudian menjelma refleksi dari apa yang terjadi di setiap sudut gang dan jalan besar; yang terjauh dan terengah; yang hiruk pikuk di tengah gempuran zaman; yang saling sikut dan tusuk dari belakang; yang ayat-ayat diperjual belikan di jalanan; yang kekerasan dibungkus dengan beragam nilai-nilai moral dan ideologi; yang saling tumpang tindih dan kebanjiran infomasi; yang seluruh dan menjadi cara kerja negara hari ini; yang terjadi di Yogyakarta dan kota-kota lainnya.

Menghadirkan 10 catatan di dalam Kurun, Kota & Ingatan mengolahnya dalam warna musik serta eksperimentasi yang begitu luas dan berani, berbekal lirik yang tajam; yang sesekali terdengar manis namun lebih sering menghujam.

Pada nomor berjudul Alur misalnya, Kota & Ingatan mencatat bagaimana kekerasan dihadirkan secara struktural di Indonesia, benturan antara masyarakat versus masyarakat dibangun, lalu militer mengintip dari kejauhan, siap hantam dengan senjata jika celah memungkinkan.

“Nilai-nilai kekerasan itu kemudian ditanam di media sosial, diadaptasi dan dibungkus dalam jargon agama, pancasila, ideologi kebangsaan, ‘merajut persatuan’ dan omong kosong lainnya. Omong kosong yang dibuat sedemikian manis agar masyarakat terlelap, mengamini kemudian lupa dan menyesali, pun begitu seterusnya,” ungkap Aditya Prasanda, pelafal teks Kota & Ingatan menceritakan kelindan isu yang diangkat melalui Alur.

Kemudian ada pula Etalase yang mencatat bagaimana orang-orang melumrahkan gerakan 212, bagaimana agama sedemikian candu hingga Tuhan dan surga diarak massa ke jalan-jalan sebagai syarat sah menyembelih manusia lainnya.

Setali tiga uang, Etalase juga menyoroti bagaimana banjir informasi membuat kita tak bisa membedakan mana yang benar dan salah, mana yang fakta dan bohong, mana yang penting dan tidak penting; yang kemudian melukai nalar dan cara berpikir banyak orang hari ini.

‘’Kedua catatan itu dipantik peristiwa gropyokan yang dilakukan sejumlah organisasi yang mengatasnamakan warga di ruang publik Yogyakarta pada 2016. Namun dalam perjalanannya, percakapannya jadi lebih luas, karena beririsan dengan banyak kasus lainnya yang terjadi di Indonesia’’ terang Aditya Prasanda.

“Catatan-catatan lain juga sama berkelindannya dengan isu yang begitu mencekik di Yogyakarta pada rentang 2016 hingga 2018, seperti Kanal yang mencatat pemukiman warga yang kesulitan air di sekitar lokasi pembangunan hotel yang begitu masif di Yogyakarta. Lalu Leram yang beririsan dengan penggusuran mengerikan: tambang pasir besi dan bandara internasional yang diinisiasi Kesultanan Yogyakarta di Kulonprogo,” tambahnya.

Melalui Kurun, kita juga dapat menyimak trauma sistem Orde Baru yang tak pernah bergeser dan kisah warga di kawasan konflik agraria yang selalu terpinggirkan, dalam lagu Pendar.

Sementara pada catatan berjudul Peluru dan Kurun, Kota & Ingatan menghadirkan beragam kasus penyelewengan HAM serta penghilangan paksa yang tak kunjung tuntas hingga hari ini.

Di luar isu-isu genting tersebut, Kota & Ingatan juga menyoroti isu lain yang kerap terlewatkan dari pembicaraan, menyoal tendensi bunuh diri yang begitu tinggi di kawasan perkotaan, dalam dua repertoar Elak dan Derit.

Sebagai nomor penutup, mereka menyelipkan satu lagu tambahan yang menyelinap di akhir kurasi album, Memoar. Sebuah nomor yang manis dan mengecoh. Menyoal hal yang klise bagi banyak orang, tentang harapan yang kandas, pada mimpi, pada angan-angan muda mudi urban hari ini yang begitu licin sekalipun tak begitu penting namun tak cukup bisa dikesampingkan. Lagu ekstra ini dirilis dalam format video klip pada 15 Oktober 2018 lalu.

Sejak terbentuk tahun 2016, kelompok musik Kota & Ingatan kerap mengisi sejumlah panggung di Yogyakarta. Beberapa kali nama mereka terdengar, namun lebih sering sayup terbawa angin. Mungkin pula disebabkan intensitas panggung mereka yang tidak sering dan saling berkejaran bersama segudang aktivitas masing-masing personilnya yang begitu cabar.

Kugiran yang beranggotakan Indradi Yogatama (gitar), Addie Setyawan (bass), Maliq Adam (gitar), Aji Prasetyo (drum) dan Aditya Prasanda (pelafal teks) ini telah merilis tiga catatan, yakni Alur pada 2016, Peluru setahun setelahnya, menyusul Memoar di paruh akhir 2018.

Kurun, merupakan debut album penuh pertama mereka.


Album: Kurun

Artist: Kota & Ingatan

Durasi total: 46:00 (empat puluh enam menit)

Tanggal Rilis: 16 November 2018

Tautan dengar: http://smarturl.it/albumkurun


Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Produser:

Kota & Ingatan

Direkam di:

Studio Jogja Audio School, Emobi Studio dan T-Studio, Yogyakarta.

Perekam dan Penata Suara: 

Maliq Adam, Aditya Kurniawan dan Putranto Aditomo

Penyelaras Akhir:

Putranto Aditomo


Narahubung: 0853-2672-5931

Instagram: @kotadaningatan

Surel: kotadaningatan@gmail.com

Blog: https://kotadaningatan.wordpress.com

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UC8OpQ6gGK7hweqHwLt1rqcw

Spotify: https://open.spotify.com/artist/2hFPwKplvODiHpCT80CEJJ

Itunes dan Apple Music: https://itunes.apple.com/id/artist/kota-ingatan/1226681312

Soundcloud: http://soundcloud.com/kotadaningatan

CD Kurun

Kurun

(Hardpack + Booklet)

Rp. 55.000

Selain dapat didengarkan melalui platform digital, Kurun juga tersedia dalam format CD. Silahkan pesan lewat nomor berikut (0853-2672-5931) atau hubungi toko musik rekanan kami di bawah ini:

Copy of Copy of dazzle (2)CD

dazzle (1)


Teman-teman juga bisa mendapatkan album Kurun di sejumlah toko musik rekanan kami dengan harga yang sama.

Copy of Copy of Copy of dazzle (3)

[Interview] Mengerti Lebih Banyak dengan Kota & Ingatan

Menjelang perilisan album penuh pertama Kota & Ingatan, ‘Kurun’ pada 16 November 2018, di sebuah malam di bulan Oktober, Kota & Ingatan berbincang panjang kali lebar dengan Kharsa.id.

Versi ramah baca dari wawancara tersebut kami sematkan di bawah ini:

Kharsa Kota dan Ingatan

K: Selamat malam teman-teman

KDI: Selamat malam

 

K: Oke, hari ini kami sedang bersama Kota & Ingatan. Dari hasil pendengaran kami, musik kalian cukup unik, opo jebul aku wae sing ra dong, hahaha. Oke silahkan perkenalkan diri dulu mas-mas sekalian

 

Adit: Saya Adit, yang biasanya ngulur kabel, kesehariannya jadi buruh ketik di sebuah kantor di Mandala Krida

 

K: Buruh ketik itu joki skripsi mas? Hahaha. Silahkan sampingnya!

 

Adam: Saya Adam, aku bantuin Adit nggulung kabel dan kegiatan sehari-hari emang nggulung kabel juga.

 

Indra: Saya Indra, di Kota dan Ingatan, saya menyesuaikan dengan profesi kedua orang ini, saya berperan sebagai penggulung kabel ketiga, kadang nyambi tukang genjreng. Keseharianku paling cuman momong ponakan doang sih

 

K: Pertanyaan pertama mas, kenapa namanya Kota dan Ingatan?

 

Adit: (Kota & Ingatan) itu sebenarnya judul lagu pertama, Alur, kalo udah pernah denger. Jadi sekitar 6 bulan pertama, kita bikin lagu belum punya nama kolektif tuh, adanya lagu itu. Pas dilihat kok oke juga nih, terus akhirnya dipilihlah nama itu (Kota & Ingatan) jadi nama kolektif. Lalu judul yang namanya Kota & Ingatan tadi diganti sama Alur. Dasarnya aja anak-anaknya males nyari nama, gak kreatif orang-orangnya. Semua judul lagunya cuman satu kata pula, hahaha

 

K: Itu lagunya emang semua anggota yang nyiptain atau emang ada satu orang yang spesialis pembuat lagu, lirik?

 

Adit: Awalnya aku nulis teks sama genjreng, terus habis itu aransemennya bareng. (Nyambung obrolan di atas) Itu judulnya cuman satu kata juga bukan karena gimana-gimana, emang karena mungkin saat ini Kota dan Ingatan masih kesulitan untuk bikin judul yang panjang kali ya, soalnya gak mudah kayaknya bikin judul yang panjang. Mungkin saat ini belom, biar lebih simple aja sih.

 

K: Biasanya lagu-lagunya diambil dari pengalaman apa mas?

 

Adit: Besok November kan rencananya mau rilis album tuh. Nah di dalamnya itu ada 9 materi, plus satu Memoar, (lagu yang terakhir disebutin) itu sebenernya bonus track. Materi di album Kurun diambil dari tahun 2016-2017, isu yang diangkat semacam rentetan kejadian yang berjalan secara berurutan di Jogja. Kenapa kami namain albumnya Kurun, itu karena (istilah tersebut) lumayan memayungi 9 isu di dalamnya gitu, dalam rentang tertentu, meski lagu-lagunya bukan dari satu tema yang sama. Macam Alur, Etalase, dan Peluru misalnya, ketiga lagu itu berangkat dari catatan yang sama tentang permanent performance of violence. Ingat gak tahun 2016 ada pembredelan pameran, diskusi, dan nobar di AJI (Aliansi Jurnalis Independen)? gak lama dari situ kami bikin Alur, itu catetannya sama. Karena kami dari pertunjukan, kami ngeliatnya dari kaca mata pertunjukan. Kami melihat orang-orang yang mengatasnamakan Pancasila, dan ideologi tertentu lantas mengokupasi ruang publik itu seperti performer di atas panggung. Di lapangan, mereka memainkan politik identitas, jadi mereka cuman menggunakan simbol-simbol (agama, pancasila, nasionalisme) untuk melumrahkan kekerasan, menyebar ketakutan dan sebagainya. Kami melihat korelasinya udah ada dari jaman dulu, dari jaman Soeharto berkuasa juga seperti itu, Nazi-pun juga melakukan hal yang sama gitu. Jadi simbol Pancasila, nasionalisme, agama, itu memang digunakan untuk tameng luarnya doang lah biar orang jadi “oh iya bener nih dia melakukan itu (kekerasan) karena untuk memperjuangkan ini-itu”. Di Jogja misalnya, kami melihat kekerasan digunakan untuk berebut lahan.

 

Lalu penerapannya dalam lagu seperti bikin cerpen lah, kami bikin dari beragam sudut pandang. Misalnya Alur, Peluru, Etalase dan terakhir Kurun yang dibikin dari 3 sudut pandang berbeda. Alur dan Etalase berangkat dari orang-orang yang melihat hari ini, kami menceritakan tentang ketegangan yang ada dan korelasinya hari ini. Lalu Peluru itu brangkat dari sudut pandang keluarga korban. Keluarga korban yang dilenyapkan dan ditinggalkan. Dulu ada mitos yang berkembang di Padang, kampungku, kalo orang membunuh akan dihantui terus sama arwah korbannya. Aku percaya mitos itu juga terjadi pada korban pembelokan sejarah. Aku yakin dalam satu dan lain hal, para pelaku diburu oleh mereka yang dibungkam, nah Peluru berangkat dari sudut pandang korban. Sementara Kurun, semangat teksnya berasal dari potongan puisi Widji Thukul, kalo gak salah dia pernah bilang ke anaknya, ”wani kalo besok orang bertanya bapakmu siapa, bilang bapakmu itu orang berani,” kayak gitu deh intinya, akhirnya kita bikin Kurun. Dalam Kurun, dengan bahasa kami, si bapak dan mereka yang dihilangkan seperti berpesan, ”jika kelak bapak hilang, cari kami dimana kebenaran berada,”. Kami mencoba membayangkan, dan berusaha menangkap dari posisi orang-orang yang dihilangkan gitu. Kurun di lagu berbeda dengan Kurun di album (Di Album Kota & Ingatan berjudul Kurun, ada lagu dengan judul yang sama dengan album-red). Kurun di lagu lebih menceritakan pesan orang yang dihilangkan pada keluarga terdekatnya, makanya judulnya Kurun seperti rentang waktu yang gak mungkin hilang meskipun dia pergi. Sedangkan Kurun di album itu mencakup rentang waktu saat kami mencatat semua kejadian di dalam album pada 2016-2017. Terus ada lagi, Kanal yang dibuat setelah ada protes masyarakat soal air-air di pemukiman di Jogja yang kesedot karena pembangunan hotel. Lalu, Pendar yang berangkat setelah aksi pengepungan asrama Papua, berangkatnya dari satu isu tapi enggak melulu tentang itu sebenarnya. Kami sadar ketika itu sudah di lepaskan, percakapannya jadi lebih luas. Ketika lagunya bergulir, akan beririsan dengan banyak isu lain yang terjadi di Indonesia. Teman-teman pun bisa melihat dari banyak hal.

 

K: Hal-hal yang kalian angkat di album itu emang concern yang kalian angkat sehari-hari, hasil pengamatan harian lalu terkumpul jadi lagu, atau emang wah kayaknya bikin lagu enak nih, wah kayaknya cari bahan ah? Pendekatan mana yang kalian gunakan?

 

Adit: Kalau aku sih ngeliatnya Kota dan Ingatan itu bukan orang yang terlibat langsung di dalam, tapi mungkin masyarakat yang berusaha menerjemahkan ketegangan disekitar lingkungannya karena gak semua temen-temen yang ada disana langsungkan. Kita bukan orang yang terjun di lapangan langsung tapi bukan berarti kita gak berhak untuk menerjemahkan ketegangan itu. Terlebih kami yakin, ketegangan (rentetan isu tersebut) besar dan kecil ada dampaknya sama kita sendiri. Kayak penggusuran, mungkin hari ini di Kulon Progo, besok bisa jadi di Jogja. Sebagai musisi yang paling bisa kami lakukan ya bikin musik  untuk minimal memancing diskusi, memancing orang untuk cari tahu, wah ada apa sih di Kulon Progo, sesimpel itu pengennya. Kami yakin dari musik doang ngga mungkin bawa perubahan besar dan seketika, tapi minimal itu yang bisa kita lakukan.

 

K: Kenapa kekerasan?

 

Adit: Kebetulan aja ketegangan yang paling kerasa di Jogja waktu itu memang konflik kekerasan. Dan kami yakin kekerasan itu masih ditampilkan dengan cara yang sama hari ini. Maksudnya mereka membungkus kekerasan dengan agama, nasionalisme dan segala macam. Padahal ya tujuannya untuk menguasai sesuatu gitu. Waktu liat Senyap, kalian inget gak sih? waktu ada film Senyap, ada satu adegan yang ngelihatin (salah satu anggota) Pemuda Pancasila berusaha membenarkan pemerkosaan yang mereka lakukan gitu. ”Aku memerkosa orang-orang Cina demi Pancasila,” adakan adegan itu masih inget gak? Itu ngeri banget. Merekapun mungkin di doktrin seperti itu, dan aku yakin orang-orang FPI itu juga sama, mereka mendoktrin (kekerasan) itu benar, “darah mereka halal lho,” nah kalo udah sampe situ kan ngeri banget. Padahal mereka juga orang-orang yang sedang mencari jati diri, gak tau kalo yang mereka dapatkan dari Imamnya ini tepat atau enggak. Akhirnya kami merasa ngeri dengan kekerasan yang dibungkus dengan banyak hal. Ini mengerikan dan ini akut terjadi di Indonesia.

 

K: Tapi aku penasaran sih sama orang-orang yang ngajak ngomong dan merekrut mereka, itu persuasifnya oke banget gak sih?

 

Adit: Iya, memang serem banget

 

K: Aku jadi penasaran sih kalian ini awal ketemunya gimana sih, berarti dari 2016 ya? Kenapa jadi akhirnya ngobrolin ini dan berkaryanya lewat musik?

 

Adit: Kita sebenernya temen lama, tapi baru bikin kolektif ini tahun 2016. Sebelumnya kita cuma nongkrong bareng, jadi masing-masing punya kesibukan sendiri dan kayaknya pertama kali kita bikin musik bareng itu di Kota dan Ingatan ya. Sebelumnya mungkin aku cuman sama Indra, trus sama Adi. Sebaliknya juga gitu. Kebetulan kan kami dari ISI, sama-sama anak-anak pertunjukan semua kan, satu jurusan semua. Di satu jurusan itu banyak tugas-tugas nih, biasalah tugas ala-ala anak seni aneh-aneh itu. Nah terus terpaksalah harus bikin banyak project gitu, irisannya dapet nih akhirnya. Aku sama Indra bikin project, sama Adi juga bikin project, pun Adam sama Adi dan Indra. Adi itu sekarang lagi di Mexico dia, yang main bass, lagi kerja disana. Di situlah ketemunya, dari nongkrong sebenernya. Baru serius ngeband itu setelah lulus semua. Jadi pas kita kuliah malah cuman makan bareng, cengegesan, setelah lulus baru, “bosen liat mukamu kalo gini-gini aja, hahaha ngapain gitu yuk”.

 

K: Lalu kenapa musik jadi pilihan media berkaryanya?

 

Adit: Yang paling dekat buat kami (musik) itu soalnya, mungkin kalo atlet kita main basket kali ya, memperjuangkan apa gitu, hahaha

 

K: Kenapa bikin lagu tapi gak pengen didengerin orang banyak gitu?

 

Adit: Eh bukan gitu maksudnya, emang lagunya gak laku, hahaha

 

K: Itu kan akibatnya mas, kalo dari sebabnya nih, kenapa kalian bisa bilang kalo mungkin dari 5 yang ndengerin, yang nyantol dikit nih

 

Adam: Bukan gitu juga sih haha tapi mungkin kitanya aja yang gak pede nih, mau gak ya orang ndengerin musik kita gitu aja sih.

 

Adit: Mungkin lebih tepatnya gini sih, kalo kita gak mau didengarkan gak mungkin kita naro di soundcloud atau youtube, itu bullshit ya pasti, cuman lebih jelasnya adalah pada dasarnya setiap musik punya pendengarnya masing-masing. Mungkin saja ya, kami gak tau nih belom riset lebih dalam, mungkin saja ketika (lagu) Kota dan Ingatan sudah dipublish, sudah di lepaskan di media sosial dan segala macem platform, pendengarnya memang gak banyak, gak massive, mungkin itu yang lebih tepat ya.

 

K: Mungkin kami yang gak tau atau gimana yah, tapi gimana mengimplementasikan ide-ide kalian, kayaknya gagasan ini deh yang diangkat itu kedalam bentuk implementasinya adalah nada, apakah itu ada cara-cara khusus dari kalian?

 

Adam: Dari mood misalnya. Adit yang nulis ini kan, terus Adit menyampaikan ke kita, terus kita coba main musik, kebayang itu nuansanya kayak apa, nanti kita olah lebih jauh lagi. Kita membayangkan nuansanya aja dulu, per-teks itu kayak gimana, itu nanti kita kembangin lagi.

 

Adit: Kejadiannya keliatan di Peluru nih, soal penghilangan paksa dan segala macem, kalo didenger itu militer banget gitu ada suara hentakan sepatu tentara, temen-temen memasukkan elemen itu, mungkin karena kejadiannya sangat tegang dan ibaratnya seperti baku hantam di medan perang kali ya.

 

Adam: Ketika udah jadi, ya bener keliatan kaku gitu. Ini memang paling “keras” sendiri musiknya, “keras” itu maksudnya kayak tentara banget, bukan keras yang scream (musik metal) tapi lebih ke kayak kita menyebutnya musik yang nuansanya keras, tegang.

 

K: Jadi apa yang membuat kalian memutuskan untuk membuat ini sebagai sebuah album?

 

Adit: Ya gak harus album juga yah, kenapa ya, hahaha. Proses pengarsipan sih sebenernya, dan kita juga menyadari itu. Agak sulit sebenernya, kalo banyak lagu dikeluarkan satu per satu, ribet juga. Terus kenapa hari ini, karena sempetnya sekarang, dari kemarin itu ngumpulin dana dan waktu. Ini sebenernya satu tahun perjalanannya, dari 2017 bikin dummy lagu-lagunya, maksudnya bikin dummy itu biar saat masuk rekaman bisa cepet karena kan kita nyewa, jadi masuk rekaman tinggal rekam karena udah ada bayangan. Setengah tahun bikin dummy, lalu setengah tahun rekaman dan bikin bentuk fisik cetaknya. Makanya baru hari ini.

 

K: Tapi emang untuk bikin sebuah album itu modalnya lumayan ya?

 

Adam: Tergantung pada siapa bertanya, pada siapa bandnya, karena bikin album itu sangat bisa diakali dengan banyak cara, tapi kan masing-masing orang punya pandangan sendiri album yang oke itu kayak gimana gitu. Kalo untuk kami, yang jelas butuh waktu. Karena kalo modal, seberapapun modal kita, bisa jadi album, mau modal 10 juta atau 15 juta atau 200ribu pun bisa jadi album, bisa rekaman sendiri di rumah misalkan.

 

K: Kalo kalian kemarin gimana tu?

 

Adam: Kalo kami mix sih, ada yang emang butuh rekam di studio karena kita belum punya ruangan. Kalo instrument-instrument yang gak butuh ruangan, kita bisa rekam dirumah

 

K: Emang biaya sewa itu berapa?

 

Adit: Itu balik lagi ke studionya karena di Jogja banyak variannya. Pada umumnya di Jogja itu 1 shift, 8 jam itu masih dibawah 1 juta.

 

K: Sedangkan kalian butuh berapa shift untuk 1 album?

 

Adit: Oh tergantung dari si gitar berapa, vocal berapa, bass berapa, jadi sebelum masuk ke studio rekaman, kita udah bikin jatah waktu per orang, mau gak mau kamu dalam 8 jam harus kelar  satu album. 8 jam itu bisa diselesaikan dalam: kayak aku kmaren misalnya dalam 3 hari, jadi karena waktu itu aku masih bolak balik Solo, jadi nyicil karena stamina juga gak mungkin ngejangkau selama 8 jam rekaman. Kadang-kadang harus dicicil hari ini 2 jam dulu deh, minggu depan 2 jam lagi ngerekam 2 lagu. Ngakalin aja. Maksud Adam tadi kenapa ngerekam di rumah, biar menekan biaya juga sebenernya, tanpa harus rekaman di ruangan yang bagus, dengan rekaman di ruangan yang biasa aja, kita berusaha untuk rekaman seoptimal mungkin, karena mepet biaya juga sih sebenernya.

 

Adam: Zaman sekarang era digitial kan, produksi musik itu dilakukan secara digital, dan itu sangat membantu banget sih.

 

K: Terus dengan perkembangan teknologi, gimana kalian ngeliat NDX manggung, berdua sama satu operator laptop di panggung?

 

Adit: Keren lho NDX, aku familia, ati-ati mas, hahaha

 

K: Keren gimana nih maksudnya?

 

Adit: Menurutku, aku gak tau dia sengaja atau enggak, mungkin juga nothing to lose. Mereka memang menceritakan apa yang paling dekat sama keseharian mereka, permasalahan mereka adalah permasalahan yang paling dekat dengan remaja usia itu, kebetulan lingkungannya seperti itu, kebetulan mereka kan dulu kuli bangunan segala macem dan itu sangat menyentuh orang-orang disana.

 

K: Tanpa sugar coating, tanpa dikemas-kemas secara manis?

 

Adit: Nah itu lebih susah lagi, bikin musik yang dengan bahasa yang sederhana itu luar biasa lho. Maksudnya kita bisa merasakan suasananya gitu, kayak lagu anak-anak. NDX aku pikir dengan caranya bisa melakukan yang seperti itu. Menurutku musik yang keren itu yang bisa menembus dimensi banyak orang, NDX itu bisa. Mungkin ketika pertama mendengarkan, banyak yang bilang itu musik alay, tapi ketika didengarkan terus-terusan begitu kena suntikan goyangannya, pelan-pelan “oh iya juga ya kata NDX” misalnya, dengan satu dan lain cara. Ternyata permasalahan yang mereka bawa itu permasalahan yang sehari-hari di keseharian mereka dan bisa mewakili (suara hati) mereka dan banyak orang gitu.

 

K: Kalian mewakili siapa nih?

 

Adit: Siapa ya, hahaha, tapi keberpihakan itu penting sebetulnya. Kami susah juga ngomong soal keberpihakan kami, agak sensitif sebenernya kalo bilang berpihak pada kaum tertentu, karena pada dasarnya kami juga memperjuangkan diri sendiri sebenernya. Dengan kita ngomong bahwa ada kekerasan seperti itu, kami juga menghindari kekerasan itu terjadi pada diri kita dengan berkaca pada apa yang terjadi hari ini yang dialami temen-temen lain. Kami mungkin gak bisa mengadvokasi temen-temen di Kulon Progo 1×24 jam, cuman dengan satu dan lain cara, kami mau ngasi tau banyak orang bahwa bisa lho kejadian kayak gitu terjadi juga pada kita. Pada dasarnya kami juga memperjuangkan diri kami masing-masing, sebagai sesama manusia gitu.

 

K: Btw kalian milih teksnya yang bahasanya kayak gimana sih, liriknya dengan bahasa yang kayak gimana sih?

 

Adit: Gak ada tendensi untuk bikin lirik itu lebih rumit atau gimana. Aku gak tau juga sih. Rasa-rasanya lirik itu mudah dicerna untuk kami yang bikin teks, cuman ternyata kasusnya (di lapangan) ketika itu dilempar pada banyak orang, gak semua bisa nangkep itu secara langsung. Mungkin dampaknya kami sadar betul, itu seperti pertunjukan, bukan koran yang ngomong disana ada A, ya disana ada A. Ada penyangatan disitu, karena itu pertunjukan, ada berbagai lapisan untuk menceritakan soal keyataan itu. Seperti cerpen, tapi itulah cara kami menikmati kenyataan dalam satu dan lain cara. Kalo mau tau kejadian yang asli, ya datenglah ke jalan-jalan. Kami mungkin gak berusaha melakukan itu secara sengaja, tapi dalam prosesnya itu terjadi. Bisa jadi banyak hal, karena basic pertunjukan tadi.

 

K: Nah kalian kan menyuarakan tentang hal yang sebenernya tinggi tingkat urgensinya di masyarakat, dan aku pikir oh mungkin NDX itu ingin menyuarakan dirinya dan aku pikir mereka cukup peka dengan keadaan sekitarnya yang membuat orang lain juga peka dengan keadaannya dia gitu. Musik kan akhirnya menjadi salah satu media yang cukup mudah untuk masuk ke pikiran-pikiran orang. Kenapa kalian tidak menciptakan lagu untuk membantu menyeimbangkan persepsi orang terhadap suatu hal, makanya tadi aku nanya kalian bikin lirik yang kayak gimana karena aku juga pengen tau, mungkin kalian itu pernah memikirkan ini akan untuk siapa dan akhirnya harus membuat lagu untuk siapa dan seperti apa gitu?

 

Adit: Pada proses kreatifnya, kalo aku nyimak semuanya (masing-masing personil) punya jalan pikiran yang sama. Ketika bikin teks, musiknya itu juga gak pengen yang gini. Kita sadar betul bikin musik yang bahasanya mudah dan umum itu lebih gampang diterima bagi banyak orang, tapi di satu sisi kami juga sadar bikin musik yang sederhana itu gak gampang. Nah di sisi lain ketika kita sudah bikin musik yang seperti Kota dan Ingatan, mungkin bayangan proses kreatif yang aku inginkan awalnya itu sesederhana The Beatles, genjrang-genjreng mungkin ya, tapi ketika nyampe di Adam, Adam punya pemikiran yang “ini gak bisa Dit, gak bisa gini doang”. Indra juga sama dan Adi juga, pun Aji (pemain drum) “ayo dong ini bisa kita kembangkan”. Akhirnya di lima kepala itu, ya namanya juga berkesenian ya, ada hasrat ingin mengeksplor kreatifitas, dan aku pikir, hal itu yang dalam praktiknya, gitarnya bisa jadi lebih terdengar “tidak umum” gitu. Sebenernya kami menyadari itu juga, kenapa gak bikin yang simpel aja gitu, ya tapi gak bisa kan, kita berlima, pengen senang-senang juga kan pada awalnya. Iya kita ingin terlibat lebih dalam pada masyarakat melalui musik, tapi bukan berarti kita gak mengembangkan kreatifitas dan segala macamnya. Gak mungkin aku juga memaksakan Adam, udah Dam yang sederhana aja, kan gak mungkin ya dalam band, di situ menariknya, ada proses dialog dengan temen-temen, jadi proses dialognya setiap orang punya pemikirannya dan itu mungkin yang bikin jadi gak sesederhana yang di pikirkan di awal, termasuk teksnya juga jadinya seperti itu.

 

K: Mungkin ini pertanyaan yang beberapa kali Kharsa tanyakan pada orang-orang yang melakukan kegiatan berkeseninan, pertanyaannya adalah bagaimana kalo menurut Kota dan Ingatan untuk mengolah, atau mempertajam kepekaan, ke-roso-an itu?

Indra: kalo itu bener-bener subjektif sih, masing-masing individu dalam mengungkap apapun itu. Ketika sesuatu muncul itu udah bisa disebut fenomena, dan disitu ada subjek, subjek itu juga sudah beda dengan latar belakang dan itu juga berlapis-lapis. Ketika fenomena itu muncul, kita tangkap, kemudian ada feedback dari fenomena yang kita tangkap, entah itu berupa karya dan sebagainya, itu pun ada lapisan yang berlapis juga. Jadi aku rasa untuk mengasah kepekaan, emang ini masalah seberapa sering kita menangkap fenomena itu dan kita refleksikan kembali, kemudian kita olah kembali fenomena itu jadi sesuatu. Semakin sering maka akan semakin sinkron. Maksudnya dijadikan kebiasaan.

 

Adam: Bener sih kata Indra, sering-seringlah menangkap dan menuangkan fenomena itu dalam karya.

 

Adit: Iya sih, jangan ngomongin yang jauh-jauh, ngomongin yang deket aja, sulit lho untuk ngomongin soal tata rasi bintang karena emang gak kompeten disana, jadi ngomongin yang deket-deket aja, itu mungkin membantu kita untuk selain bikin musik juga mengasah empati dengan sekitar. Itu kerasa banget. Memang pertanyaan yang sulit sih, semua orang akan pasti mengalami fase-fase itu.

 

Pre Order Edisi Spesial [Closed]

Jelang perilisan album penuh pertama Kota & Ingatan ‘Kurun’ pada 16 November 2018, kami membuka Pre Order Edisi Spesial.

Open Pre Order (22 Oktober-5 November)

[EDISI SPESIAL] KURUN diproduksi dalam jumlah terbatas, harga Rp. 165.000 (belum termasuk ongkir) berisi:

– Suvenir Kaus Kota & Ingatan edisi KURUN
– CD Album KURUN
– Booklet 16 halaman
– Sticker
– Pouch

WhatsApp ke nomor berikut +62853-2672-5931

dengan format pemesanan:

01. Nama lengkap :
02. Alamat lengkap penerima:
03. Jumlah pembelian:
04. Warna dan ukuran kaus:

Desain Mock Up oleh Bambang Nurdiansyah

semua2 editCDKAOS2 SablonPEMESANAN

Memoar

[Memoar]

Teks:

musim menertawakan sungaiku yang dahaga
namun gadis rumbai jagung
pertanyaan tak berawan
memetikku dari angin dengan daun-daunnya yang kemilauan
bunga lili putih taman segala bermula

kita temu dan luruh menatapi persimpangan yang tak pernah bertemu
gadis rumbai jagung duduk di sudut itu
dan hujan, aku hanya menjelma hujan
hujan
dan pergi
dan kering

musik dan teks
kota & ingatan

direkam di studio JAS , Emobi, MAM dan T-Studio

penata suara
Maliq Adam, Aditya Kurniawan, dan Putranto Aditomo

penyelaras akhir
Putranto Aditomo

video oleh Tito Edy Wicaksana