Di tempat yang sama.

Arsip: Rnmdn Fibra

30 September, dari tangkapan seorang teman. Di tempat yang sama.

kota & ingatan 1kota & ingatan 5kota & ingatan 4kota & ingatan 3kota & ingatan 7kota & ingatan 6kota & ingatan 10kota & ingatan 2

 

Advertisements

Joglitfest

Arsip: Joglitfest

30 September, kami ditemani mas Gilang Ramadhita dan Kadha Aditya, di antara hari-hari buruk, sejarah yang terus berulang dan luka yang tak kunjung sembuh.

Kota & Ingatan 1Kota & Ingatan 6Kota & Ingatan 4Kota & Ingatan 7Kota & Ingatan 8Kota & IngatanKota & Ingatan 3

Merapal Kurun: Mengukur Waktu, Mengeja yang Telah

Nyaris setahun pasca merilis debut album Kurun pada November 2018 lalu, Kota & Ingatan merilis kembali album penuh mereka dalam format studio session, Merapal Kurun.

Merapal-kan kembali catatan demi catatan dalam album Kurun, Kota & Ingatan memainkan 9 dari 10 catatan album ini secara live.

Alur didapuk sebagai catatan pembuka sesi Merapal Kurun yang dirilis via Youtube pada Rabu (28/08).

Direkam pekan akhir Juli, di Jogja Audio School (JAS), Kota & Ingatan menggubah set studio langganan banyak musisi Jogja ini menjadi sedikit berbeda.

”Tantangannya, gimana merubah studio JAS agar terlihat nggak biasa? Karena ada banyak banget musisi yang bikin studio session di JAS, dengan set yang nyaris sama,” ungkap Aditya Prasanda, pelafal teks kugiran yang berdiri pada medio awal 2016 tersebut.

Aditya menambahkan, ”Di situlah muncul gagasan menutup area-area paling familiar di JAS dan menembakkan proyektor di satu sisi studio. Meski di lapangan, ada beberapa spot khas JAS yang tak terhindarkan dan terekam.”

Selain Alur, terdapat 8 catatan lain yang akan diunggah Kota & Ingatan secara berkala melalui kanal Youtube mereka.

Menariknya, hanya Memoar, single pembuka album Kurun yang tidak disertakan dalam sesi live ini.

”Kami terkendala waktu, meski sudah direncanakan jauh hari, ekseskusinya tetap mepet dan terburu-buru. Jadi ngga sempat ngulik Memoar,” jelas Maliq Adam, gitaris sekaligus multi instrumentalis Kota & Ingatan.

Rekaman studio session, Merapal Kurun sekaligus menjadi ajang temu kangen, merayakan kepulangan sejenak pembetot bass mereka, Addie Setyawan yang bermukim dan melanjutkan hidup di Meksiko.

Tak hanya itu, Merapal Kurun juga menjadi sesi pertama Kota & Ingatan memainkan fullset debut album mereka secara live.

Sejak terbentuk tahun 2016, di antara kelindan aktivitas personelnya yang begitu cabar, Kota & Ingatan mengisi sejumlah panggung di Yogyakarta.

Setiap tahun, Kugiran yang beranggotakan Herda Mukti Setiyawan (gitar), Addie Setyawan (bass), Maliq Adam (gitar), Aji Prasetyo (drum) dan Aditya Prasanda (pelafal teks) ini rutin merilis single. Kurun merupakan debut album penuh mereka.

Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Produser:

Kota & Ingatan

Pengambil Gambar:

Asep Taufik Hidayat

Etno Mansur

Nerpati Palagan

Penyelaras Gambar:

Nerpati Palagan

Pengarah Proyektor:

Aleyo Sas Melas

Teknisi:

Miko Kim
Dzunnurain Achmad Azhar
Cahyo Kukuh B.K.

Perekam dan Penata Suara:

Aditya Kurniawan

Muhammad Kemal Akbar

Maliq Adam

Penyelaras Suara:

Maliq Adam

Narahubung:

Da’watul Khoiroh

Keluarga. 2019.

Pertengahan 2019, mas Addie Setyawan pulang. Tidak lama, hanya sebulan, sebelum kembali bergulat dengan kesehariannya di Meksiko.

Kami sempatkan mengambil foto keluarga yang teramat sangat jarang. Sementara hidup terus berjalan, keluarga kami juga bertambah. Bersama kami, mas Herda Mukti Setyawan di pojok kiri, teman tandem mas Maliq Adam di atas panggung selanjutnya.

Kota & Ingatan

Pendar: Sebab Nasib Tak Hanya Ditentukan Lima Tahun Sekali

Untuk merayakan bulan yang penuh warna, jalanan yang penuh slogan, hari-hari yang pepat dan penuh pupur, massa yang saling tikam demi ‘menentukan arah pembangunan’, yang ambil keputusan sebab tak punya pilihan, yang tak urun suara sebab sadar akan selalu terpinggirkan.

Enam bulan pasca merilis bonus track berbentuk video footage ‘Memoar’ yang diambil dari debut album mereka, ‘Kurun’, Kota & Ingatan melempar nomor ‘Pendar’ dalam format video klip di Youtube.

Pendar, seperti halnya catatan lain dalam album mereka yang puspa warna, memancing rasa penasaran dengan bagan musik repetitif pada melodi gitar maupun tema utama vokal yang berulang-ulang, berkelindan dengan departemen teksnya yang begitu kuat.

Eksperimentasi Kota & Ingatan yang luas dan berani, juga terdengar pada segmen poliritmik, multi ketukan yang saling bersahut di sepanjang lagu, dipagari  ambiens yang disusun dari komposisi musiknya yang lamat, perlahan menginterpretasikan kesemrawutan hari ini di bagian outro.

Bait, ”Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama,” yang tegas dihadirkan sebagai topik utama pada awal video, memberikan bocoran pada pendengar berkenaan dengan apa catatan dan video ini dirancang.

Hanya beberapa hari setelah perilisan klip Pendar, pemilihan umum capres dan cawapres di Indonesia diadakan serempak. Ketegangan pendukung masing-masing kubu kian meninggi dari awal tahun 2019 hingga jelang pemilihan umum dilaksanakan.

Saling sikut dan tikam saat bertatap langsung maupun di media sosial tak terhindarkan dari kedua kubu. Politik identitas khas parade lima tahun sekali digaungkan, pupur kedua calon di kedepankan, dan masyarakat saling dibenturkan, di antara hiruk pikuk jargon siapa yang paling mulia, paling manis janjinya, paling sederhana, paling agamis, paling tegas, dan segala ‘paling’ yang memperkeruh keadaan sesungguhnya.

Tragis, hal-hal subtil dari parade ini kian bias, tatkala pembicaraan soal penegakan HAM yang tak kunjung usai, hingga kasus pembangunanisme tak masuk akal yang mengorbankan alam dan manusia, absen dari debat kusir di televisi, di manapun, di kehidupan sehari-hari.

Ketegangan tersebut diterjemahkan Kota & Ingatan melalui ‘Pendar’.

Pada bait, ”Seperti kejenuhan yang paling jenuh dalam kerumunan yang paling riuh, kita berdiri di pinggir jalan yang sama,” atau deretan teks macam, ”Kebohongan yang paling satir dalam kemurungan yang paling kapir,” lalu ”Kekalahan yang paling amis dalam kesombongan yang paling lamis,” lantas ditegaskan dengan bait repetitif ”Kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama. Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama,” berturut-turut mengajak pendengar menyimak potret hari ini dengan keterjagaan yang seharusnya.

Ya, pemilu akan selalu dilaksanakan lima tahun sekali, roda ‘politik berbagi kekuasaan’ pun terus berputar, janji penuntasan kasus HAM pun hanya sebatas jargon lima tahun sekali tatkala deretan jenderal yang paling bertanggung jawab pada rentetan tragedi paling kelam di Indonesia masih melanggeng di pemerintahan. Kota & Ingatan mewanti-wanti situasi ini dalam deretan teks, ”Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.”

Sementara penegakan HAM tak kunjung usai, percepatan pembangunan tak lagi masuk akal ketika tidak lagi berpihak pada alam dan manusia, tatkala reklamasi di Teluk Benoa, pembangunan bandara dan tambang pasir besi di Kulonprogo, hingga pembangunan pabrik semen di Rembang, serta berbagai konflik agraria di Indonesia tetap berjalan betapapun tidak memenuhi syarat uji kelayakan AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan).

Melalui catatan Pendar, Kota & Ingatan menyelipkan alarm betapa nasib sesungguhnya tak hanya ditentukan lima tahun sekali, sebab perjuangan dan perwujudan janji harian jauh lebih penting ketimbang euforia tahunan tersebut. Maka, ”Tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.”

Bekerja bersama videographer, Dhani Phantom, serta dua aktor, Muhamad Rizal Kurniadi dan Muhammad Ayodya Putra, catatan Pendar divisualkan melalui video hitam putih nan menerjemahkan deretan ketegangan tersebut; yang kian mengeras jelang dan sesudah pemilihan umum dilaksanakan.

—-

[Pendar]

Teks:

tetaplah terjaga, seperti kejenuhan yang paling jenuh

dalam kerumunan yang paling riuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

 

tetaplah terjaga, seperti kejauhan yang paling jauh

dalam perburuan yang paling piyuh

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

 

tetaplah terjaga, kita masih di keramaian yang sama.

 

dan tetaplah terjaga, seperti kebohongan yang paling satir

dalam kemurungan yang paling kapir

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

 

dan tetaplah terjaga, seperti kekalahan yang paling amis

dalam kesombongan yang paling lamis

kita (masih) berdiri di pinggir jalan yang sama.

 

Musik dan teks:

Kota & Ingatan

Direkam di:

Studio Jogja Audio School, Emobi Studio dan T-Studio, Yogyakarta.

Perekam dan Penata Suara: 

Maliq Adam, Aditya Kurniawan dan Putranto Aditomo

Penyelaras Akhir:

Putranto Aditomo

Director:

Aditya Prasanda

Videographer:

Dhani Phantom

Aktor: Muhamad Rizal Kurniadi dan Muhammad Ayodya Putra

Pengambilan gambar di Gilang Ramadhan Studio Yogyakarta (grsb_yogyakarta)